0

Mengatasi Phobia Sekolah pada Anak

Phobia sekolah adalah kecemasan atau ketidaknyamanan berada di sekolah.  Hal ini sering terjadi pada anak balita dan anak yang akan mulai masuk sekolah TK, SD ataupun SMP. kecemasan yang mereka rasakan membuat mereka enggan untuk pergi ke sekolah mereka akan melakukan trik atau alasan agar mereka tidak sekolah seperti menangis atau berpura-pura sakit agar orang tua bisa meng’iya’kan kemauannya untuk tidak sekolah. Keesokan harinya merekapun akan melakukan trik itu lagi karena dengan cara itu mereka berhasil untuk tidak pergi kesekolah lagi seperti hari-hari sebelumnya.

Ada beberapa penyebab phobia sekolah contohnya:

  • Pengalaman olok-olok teman
  • Pengalaman dimarahin guru
  • Tidak percaya diri
  • Tidak ingin pisah dengan orang tua/ibu
  • Tidak merasa nyaman dengan lingkungan
  • Malas belajar
  • Lingkungan baru
  • Anak sulit sosialisasi dan adaptasi

Adapun jenis phobia sekolah yaitu:

  1. Phobia jangka waktu pendekPhobia sementara hanya berlangsung pada awal sekolah selama 3 – 2 mingguan. Biasanya phobia ini terjadi pada anak usia balita (tidak mau berpisah dengan ibu) atau pada anak yang mulai masuk sekolah baru (adaptasi lingkungan dan orang baru).
  2. Phobia jangka waktu panjangPhobia jangka waktu lama biasanya berlangsung bertahun-tahun bahkan selama anak bersekolah disekolah itu. Hal ini terjadi karena pada awal sekolah (pada awal terjadi phobia) tidak ditangani dengan baik sehingga anak merasa terpola mengatur semua semaunya/atas kehendaknya. Sekolah dengan ditemani mama atau menolak sekolah jika ada kegiatan yang tidak disukainya. Jika ini sudah terjadi, anak merasa hal ini wajar dan anak tidak akan mendengarkan nasihat dari orang lain karena yang ia butuhkan hanya berada disamping ibunya setiap ia mau termasuk saat sekolah.

Keterikatan anak dengan ibu yang berlebihan dapat membuat pola perilaku anak yang ketergantungan dengan ibunya. Selain itu, anak yang tidak biasa belajar dirumahpun menjadi salah satu penyebab phobia sekolah. Anak tidak merasa nyaman disekolah karena disekolah ia harus belajar dan berpikir. Sedangkan dirumah, ia bisa main dan apapun yang ia mau bisa didapatkan. Persepsi anak yang mengalami phobia sekolah itu perlu kita luruskan. Anak harus mengerti pentingnya sekolah, serunya bermain dengan teman-teman di sekolah, belajar dengan nyaman dan menyenangkan dan menghapus persepsi beruk anak terhadap sekolahan beserta orang-orang di lingkungannya. Terkadang seorang ibu merasa tidak tega saat anaknya menangis dan menolak sekolah. Hal ini wajar saja, namun demi kebaikan dan kelancaran belajar anak, ibu harus belajar mencoba dan mempercayakan semua pada guru. Kepercayaan penuh terhadap guru akan membuat guru merasa dihargai dan berusaha lebih giat untuk memberikan layanan yang terbaik.
Ajaklah anak berdiskusi tentang hal apa saja yang membuat ia enggan pergi ke sekolah. Jika alasannya karena ketidak nyamanan dengan teman, guru atau lingkungannya, maka mintalah bantuan guru kelas untuk bersama-sama mengatasi masalah ini.
Phobia sekolah ini seperti hal sepele yang mungkin orang lain akan beranggapan bahwa  semua anak sama, akan mengalami phobia sementara. Namun beda halnya jika phobia yang berkelanjutan dan tidak ditangani dengan benar. Phobia sekolah akan berkelanjutan sampai anak besar dan pastinya akan membuat orang tua kebingungan.

Cara mengatasi phobia sekolah yaitu dengan menghadapi sekolah itu sendiri dan menekankan pentingnya sekolah. Apapun alasan yang dilakukan anak (manipulasi dengan menangis atau sakit), anak harus tetap berangkat kesekolah. Anak harus mengalami sendiri beberapa pengalaman disekolah dan merasakan serunya sekolah, amannya sekolah, senangnya bermain debgan teman teman dan hal positif lainnya jika sekolah. Dengan merasakan sendiri, pelan pelan persepsi buruk terhadap sekolah akan terhapuskan dan anak akan kembali percaya diri di sekolah. Jika anak dibiarkan tidak ingin sekolah atau sekolah dengan terus didampingi ibu, anak akan sulit mandiri dan phobia akan berkelanjutan.

Rangkulah anak oleh seluruh anggota keluarga, perbaiki kedekatan anak dengan anggota keluarga, agar anak tidak selalu dengan dengan ibunya.

Bila perlu, konsultasikan masalah phobia sekolah dengan psikolog agar orang tua tau penyebab dan cara yang tepat untuk mengatasinya. Jangan takut untuk berkonsultasi ke psikolog karena beranggapan  bahwa anak anda baik baik saja, psikolog adalah seorang ahli dalam bidang praktik psikologi, bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental. Siapa saja yang merasa mengalami ketidak wajaran tingkah laku atau kecemasan berlebihan terhadap sesuatu, bisa berkonsultasi ke psikolog.
Tetaplah berpikir positif dan tegas terhadap anak yang mengalami phobia. Phobia sekolah harus ditangani sedini mungkin maksimal sampai anak kelas 3 SD. Jika lebih dari itu, akan sulit merubah persepsi dari anak yang memiliki ketakutan akan sekolah.

Advertisements
0

Cara Mengajarkan Toilet Training Pada Anak

Umumnya balita bisa diajak toilet training setelah otot-ototnya mulai dapat mengontrol kandung kemih pada usia di atas 18 bulan. juga ditandai dengan kesiapan emosi, fisik dan psikologis di usia sekitar 2-3 tahun. Tanda-tandanya antara lain, dapat duduk tegak, dapat membuka-memakai celana, bisa memahami intruksi sederhana dan sudah bisa mengatakan keinginannya.
Persiapan yang dibutuhkan:

  • Diapers (untuk tahapan pertama)
  • Trainingpant (supaya saat terjadi kebocoran tidak jatuh ke lantai)
  • Kursi untuk duduk anak (posisikan dekat pintu kamar mandi)
  • Lap pel
  • Minyak telon (biar gak masuk angin)
  • Timer

Tahapan pertama:

Anak masih menggunakan diapers ya bunda. 

  • Beri waktu satu jam setelah anak mandi, ajak anak ke kamar mandi (posisi pipis), tunggu sekitar 2-3 menit sampai anak benar-benar pipis. Jika anak tidak pipis, pakaikan kembali diapers dan tambahkan waktu 5-10 menit, ajak lagi anak ke kamar mandi sambil perkenalkan “ini namanya pipis, dede mau pipis/ dede sedang pipis”. 
  • Jika anak berhasil pipis di kamar mandi, berikan reward dan lihat reaksi anak.
  • Setelah tau berapa menit jarak anak pipis, lakukan pada jam berikutnya.

Tahapan kedua:

Pada tahapan ini, anak sudah mulai pakai trainingpant ya bun. Trainingpant ini bisa menampung air kencing 1x agak tidak jatuh ke lantai dan anak akan merasa risih karena merasakan basah.

  • Seperti tahapan pertama, ajak anak ke kamar mandi 1 – 1,5 jam sekali untuk pipis.
  • Jika anak banyak minum, kurangi beberapa menit jarak pipisnya karena akan lebih sering pipis.
  • 5 menit sebelum jadwal ke kamar mandi, posisikan anak duduk di kursi dekat kamar mandi. Setelah waktunya, barulah ajak anak ke kamar mandi untuk pipis. 
  • Berikan penjelasan tentang kegiatan “pipis”.
  • Lakukan pada jam berikutnya. Jika terjadi kebocoran, ajari anak untuk pelepas celananya sendiri dan pakaikan kembali trainingpant yang lainnya.

Tahapan ketiga:

Sama seperti tahapan yang kedua.

  • Posisikan anak duduk dikursi 5 menit sebelum jadwal pipis dan tunggu sampai anak masuk sendiri ke kamar mandi. Jika masih belum merespon sendiri pada saat waktunya pipis, ajaklah kembali ke kamar mandi (dibantu).
  • Berikan penjelasan kegiatan “pipis”
  • Lakukan pada jam berikutnya. Jika terjadi kebocoran, ajari anak untuk pelepas celananya sendiri dan pakaikan kembali trainingpant yang lainnya.

Selama tahapan 1-3, untuk malam hari masih menggunakan diapers ya bun, atau kalau tidak, boleh menggunakan alas agar pipis anak tidak kena sprai.

Biasakan pipis sebelum tidur.

Ketika bepergian, disarankan pakai diapers dulu. Ajaklah anak pipis saat akan berangkat dan sampai di tempat tujuan.

Nah, kalau untuk BAB caranya hampir sama bunda. Bedanya hanya pada jarak waktunya saja. Pada umumnya jadwal BAB akan selalu/ hampir sama pada setiap harinya kecuali ada gangguan pencernaan. Maka kita akan lebih mudah mengajarinya. Jika sudah mendekati waktunya anak BAB, ajaklah ke kamar mandi dan posisikan anak untuk BAB. Tunggu kurang lebih 5-7 menit sambil beri penjelasanengenai BAB. Ciptakan suasana yang menyenangkan agat anak tidak bosan. Setelah anak berhasil BAB di closet, berikan reward yang menyenangkan ya bun. Jika belum bisa, kembali keluar dan tambahkan beberapa menit baru ajak kembali ke kamar mandi.

Toilet training ini membutuhkan banyak kesabaran lho bunda. Bukan hanya anak saja yang mengalami penyesuaian. Bunda juga pastinya butuh penyesuaian mesti bolak balik kamar mandi padahal biasanya santai-santai saja karena anak pakai diapers ūüėÖ (betul apa betul bunda). Sabar ya bunda, namanya juga anak lagi belajar. Biasanya toilet training ini goal dalam 1 sampai 8 minggu, tergantung kemampuan anak mengerti konsepnya (untuk anak normal). Berbeda dengan anak berkebutuhan khusus yang kebanyakan membutuhkan waktu lumayan lama.

Kerjasama semua pihak yang ikut mengurusi anak juga penting bun. Komunikasikan program toilet training ini dengan pengasuh, nenek-kakek dan suami. Oia bunda, bila perlu berikan minyak telon agar anak tidak masuk angin karena kena air terus (masih penyesuaian). Siapkan sabar juga yang banyak ya bun ūüėĄ. 

Semoga bermanfaat dan selamat mencoba.

2

‚ÄčPentingnya Pendidikan Anak Usia Dini dalam Membangun Masa Depan Bangsa

Anak merupakan aset terbesar orang tua untuk masa depan. Banyak harapan besar yang ditumpukan oleh orang tua kepada mereka. Demi kemajuan anak orang tua bisa mengorbankan apa saja termasuk pendidikannya. Setiap orang tua menginginkan pendidikan yang terbaik bagi anak. Namun sebagian besar orang tua masih kurang tepat dalam memberikan tuntutan pendidikan bagi anak.
Banyak orang tua yang menginginkan anaknya menjadi seorang yang pintar, cerdas dan juara kelas dengan menjejalkan berbagai macam les mata pelajaran di luar jam sekolahnya seketika dia masuk di sekolah dasar. Tanpa adanya bekal yang cukup, tuntutan orang tua yang seperti demikian hanya akan membebani anak.

Mengapa pendidikan anak usia dini itu sangat penting?

Berdasarkan hasil penelitian sekitar 50% kapabilitaas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika anak berumur 4 tahun,80% telah terjadi perkembangan yang pesat tentang jaringan otak ketika anak berumur 8 tahun dan mencapai puncaknya ketika anak berumur 18 tahun, dan setelah itu walaupun dilakukan perbaikan nutrisi tidak akan berpengaruh terhadap perkembangan kognitif.

Hal ini berarti bahwa perkembangan yang terjadi dalam kurun waktu 4 tahun pertama sama besarnya dengan perkembangan yang terjadi pada kurun waktu 14 tahun berikutnya. Sehingga periode ini merupakan periode kritis bagi anak, dimana perkembangan yang diperoleh pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa. Sementara masa emas ini hanya datang sekali, sehingga apabila terlewatkan berarti habislah peluangnya.

Bolehkah anak usia dini diajarkan berbagai macam materi?

Pada usia 3-6 tahun biasanya orang tua memasukan anaknya ke sekolah sekolah supaya anaknya bisa diajarkan berbagaimacam kemampuan dan keterampilan. Tapi mesti ingat bunda, pada usia 3-6 tahun anak boleh saja dikenalkan berbagai macam pelajaran namun jangan sampai kita memaksakan dengan memberikan berbagai jenis les dan pembelajaran dengan tujuan anak supaya pintar segalanya. Pembelajaran pada anak usia dini haruslah menyenangkan agar mereka tidak merasa sedang belajar. Mereka tetap merasa nyaman dengan pembelajaran yang menyenangkan.

Pada usia 3-6 tahun adalah masa anak bermain, mereka boleh saja belajar angka, huruf, baca dan tulis namun. Kita harus melihat kemampuan anak tersebut. Jangan sampai masa kanak kanaknya hilang, masa bermain dengan teman seusianya terenggut dengan banyak kegiatan belajar dengan tuntutan harus sudah bisa ini itu. Biasanya, anak dengan banyak materi yang di dapatkan pada usia dini, mereka akan menjadi anak yang pemarah, jail dan berontak pada usia 6-8 tahun. Mereka merasa tertekan dengan tuntutan pelajaran yang selalu diberikan. 

Anak saya suka menolak belajar, apakah dia belum siap atau memang tidak tertarik ya? Bagaimana cara mengatasinya?

Kita sebagai orang tua harus peka memperhatikan setiap respon dan perkembangan anak dalam setiap pembelajaran yang di dapatkan. Jika dilihat anak mampu dan senang dengan berbagai kegiatan dan pembelajar yang diberika, maka lanjutkanlah. Jika memang agak sulit, maka tidak usah dipaksakan. Perlu diingat juga bahwa kemampuan setiap anak berbeda bunda, jadi tidak usah sedih saat kemampuan anak kita dibawah anak lain.

Jika anak mengalami kesulitan atau penolakan dalam belajar, Kita harus pandai memperhatikan penyebabnya dan mengetahui cara menanganinya. Misalkan,

  1. Jika anak belum bisa menerima materi dengan baik dan sulit fokus, maka kita harus ajarkan anak kita untuk bisa fokus dan konsentrasi dengan baik. Salah satunya dengan kegiatan brain gym (ada pada artikel sebelumnya), berbagai aktifitas fisik lainnya, juga dengan memberikan kegiatan seperti menggunting atau mencocok gambar. Melalui beberapa kegiatan teraebut, kefokusan anak akan terlatih menjadi lebih baik.
  2. Jika anak menolak menulis, mungkin saja anak belum siap menulis misalkan keterampilan memegang pensilnya belum begitu bagus, anak merasa kesakitan saat menekan pensil (otot jari lemas), maka latihan motorik halus sangat dibutuhkan anak. Berikan pijitan kecil pada telapak tangan anak dan jari jari anak. Selain itu, berikan anak mainan edukatif seperti ronce, puzzle dan juga beri kegiatan memindahkan biji-bijian dari mangkuk ke mangkuk lain menggunakan tiga jari, anak belajar membawa beban ditangannya seperti menenteng tas kecil yang diberi beban sesuai usianya. Semua kegiatan itu bertujuan untuk mnguatkan otot jari tangan agar anak siap menulis dengan cara memegang pensil yang baik.
  3. Jika anak sering menolak belajar dan selalu mengalihkan perhatian, terapkan metode behavior terapi. Berikan reward yang disukai anak setia anak melakukan kegiatan yang diperintahkan/ menyelesaikan tugas. Lakukan dengan konsisten dan tegas. Buatlah susana belajar yang menarik agar anak mau mengikuti pembelajaran.
  4. Anak tidak percaya diri dan pemalu. Berikan terus ia semangat dan biarkan ia melakukan kegiatan/ menyelesaikan materi sendiri dan jangan lupa berikan reward untuk penyemangat anak. Jangan terlalu sering menatap mata anak saat memberikan instruksi atau materi. Terkadang kita harus pura-pura cuek dengan respon anak saat kita memberikan materi/perintah agar anak berani memulai / menjawab. Selalu libatkan anak dalam setiap kegiatan sangat berpengaruh terhadap kepercaya dirian anak.
  5. Berikan contoh yang baik. Ajarkan pendidikan agama dan sosial sedini mungkin. Karena anak mudah sekali meniru dibandingan dengan mengikuti nasehat orang tua. Maka, orang tua yang lebih kama bersama anak, maka orang tualah yang pertama menjadi contoh untuk mereka. Berikan contoh yang baik dan sederhana misalkan membuang sampah pada tempatnya, menyapa orang lain, berbicara lembut bahkan cara menolak sesuatu (menyampaikannketidak sukaan).

Kedekatan anak dan orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak. Lakukanlah pembelajaran yang menarik di rumah. Dengan suasana yang menyenangkan, anak akan selalu bahagia, dan dengan hati yang bahagia, anak akan dapat menyerap materi dengan cepat dan tumbuh dengan baik.

Anak anak adalah penerus bangsa. Mendidik anak sedini mungkin kita bisa lakukan dirumah, dilingkungan luar, disekolah dan dimanapun tempatnya. Dengan didikan yang baik di waktu kecil, akan menjadi pondasi yang kokoh dan akan berpengaruh sampai mereka dewasa. Tetaplah menjaga kedekatan dan keharmonisan bersama keluarga karena anak yang bahagia berasal dari keluarga yang harmonis dan keluarga yang harmonis akan menghasilkan anak bangsa yang cerdas dan berbudi pekerti baik.

0

Pentingnya Belajar Matematika

‚ÄčMatematika merupakan keterampilan dasar dalam kehidupan dan aplikasinya yang bertebaran di seluruh lapisan masyarakat. Mengerjakan Matematika dengan keseriusan merupakan aspek penting dari pendidikan yang berhasil dan perlu perencanaan yang  tepat dari masa anak-anak sampai dewasa karena matematika memang sangat penting bagi kehidupan kita. 
Dan Berikut ini adalah alasan mengapa Kita harus belajar Matematika sejak dini.

1. Matematika mengajarkan keterampilan pemecahan masalah
Masalah dalam matematika dan cara penyelesaiannya dapat anak terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika siswa memecahkan masalah matematika di berbagai cabang, mereka sudah dibekali dengan kemampuan untuk mengatur informasi, mengatur ulang informasi dan uji kebenaran iformasi.
2. Belajar untuk hidup cerdas
Ada berbagai kesempatan dalam kehidupan di mana kita harus menggunakan kemampuan matematika untuk penyelesaiannya contohnya Menghitung seberapa panjang jalan yang dilalui dari rumah ke sekolah, memeriksa garansi produk, pintar mengemudi tanpa membuang-buang waktu dan bahan bakar, membeli bahan makanan di toko bahkan membuat bangunan semuanya berdasarkan ilmu matematika, pengetahuan tentang ilmu matematika juga digunakan untuk mengambil  keputusan yang tepat.
3. Matematika membuka wawasan tentang pelajaran akademik lainnya
 Matematika adalah pintu gerbang untuk mata pelajaran Sains seperti Fisika, ilmuTeknik, akuntan dan ekonomi. Dengan  keterampilan Matematika maka pelajaran lainnya akan terasa mudah dipahami karena dasarnya tetap matematika.
4. Matematika menyediakan Lapangan kerja yang luas dan menjanjikan
Matematika merupakan keterampilan yang dapat mengantarkan kita menuju karir yang gemilang karena dengan keterampilan matematika kita bisa mendapat pekerjaan yang menjanjikan seperti, programemer computer, Pedagang besar, Ekonoi, Arsitek Guru, Dosen Bahkan Dokter. Memang mata pelajaran lainpun berpeluang menyediakan lapangan kerja yang banyak dan menjanjikan tetapi tidak sebanyak dan semenjanjikan matematika.

5. Matematika bisa Membuktikan bahwa kita cerdas di tempat kerja
Keterampilan Matematika menawarkan kita kepada kemampuan analitis, struktur dan keterampilan organisasi. Setiap Atasan (bos) mengharapkan karyawannya untuk menghadapi situasi yang menantang di tempat kerja dengan otak analitis dan memberikan solusi untuk segala situasi. Keterampilan matematika dapat membentuk kemampuan analitis seseorang.
6. Dengan matematika Kita menjadi orangtua yang baik di masa depan:
Kita hari ini masih berstatus sebagai siswa, tetapi siswa hari ini adalah orang tua besok dan mereka yang memiliki kemampuan Matematika yang kuat tentunya akan mampu menanamkan keterampilan matematikanya  kepada  anak-anak mereka. Kita dapat membesarkan anak-anak kita dengan pengetahuan ilmu Matematika yang tentunya akan sangat berdampak baik bagi kehidupan anak-anak kita kelak.
Banyak faktor yang membuat upaya kita sukses dalam memperoleh keterampilan Matematika. Salah satunya adalah motivasi dengan motivasi positif dari guru terhadap pembelajaran Matematika . Guru harus membuat siswa terinspirasi dan merangsang kepekaan otak kita dengan matematika. Ini harus dimulai dari anak usia dini dari pelajar muda untuk mempromosikan sikap belajar yang positif mereka terhadap Matematika.

0

CARA MENJALIN CHEMISTRY DENGAN BUAH HATI ANDA

Halo assalamualaikum
Sudah lama rasanya saya tidak memposting artikel disini. Kebetulan 4 bulan yang lalu saya telah melahirkan anak pertama saya tepatnya pada tanggal 8 April 2016 yang diberi nama Elnino Putra Sunarya.

image

Ini Nino sama ayahnya waktu umur 1 bulan

Terlalu keasikan mengurusi sang bayi jadi belum sempat menulis lagi. Sekarang saya dapat merasakan kebahagiaan memiliki buah hati yang sangat lucu. Biasanya saya hanya bermain bersama murid-murid saya dan sekarang saya dapat merasakan kebahagiaan bermain dengan putra saya sendiri. Memang benar sangat terasa perubahan yang berbeda di hidup saya setelah adanya pangeran kecil ini. Setiap hari kita lalui bersama karena kebetulan baru satu minggu saya cuti kerja saya langsung lahiran dan saya memiliki banyak waktu untuk mengurusi pangeran kecil ini. Sibuk memang dan sayapun merasakan kelelahan karena mengurusi bayi sendiri namun semua itu saya nikmati dan saya syukuri karena dengan itu saya bisa membangun chemistry yang erat dengan pangeran kecil ini.

Haduh, malah jadi curhat gini ya ūüėÄ
Maaf maaf, baiklah dikesempatan kali ini saya akan membahas mengenai CARA MENJALIN CHEMISTRY DENGAN BUAH HATI ANDA. Sedikit nyambung kan dengan cerita saya di atas hehehe.

Menjalin kedekatan dengan anak merupakan hal yang mesti diupayakan oleh orangtua. Namun, tak banyak orangtua yang paham bagaimana cara membangun kedekatan dengan anak sesuai usia mereka.

Anda mungkin pernah mendengar istilah bonding. Bonding adalah suatu keterikatan antara orangtua dan anak. Dalam ilmu psikologi, bonding kerap diartikan dengan keterikatan pada beberapa hari hingga beberapa minggu setelah kelahiran anak. Para ahli psikolog lebih suka menyebut proses pembentukan kedekatan tersebut dengan istilah attachment.

Tiga tahun pertama
Seorang ahli psikologi, John Bowlbymengembangkan suatu penelitian yang mengungkapkan bahwa tiga tahun pertama hidup seorang anak adalah waktu paling baik untuk pengembangan kedekatan antara orangtua-anak. Studi Bowlby kemudian dikembangkan oleh koleganya, Mary Ainsworth yang kemudian mengklasifikasikan bentuk-bentukattachment tersebut. Dari studi Ainsworth, kita mengetahui bahwa sebagian besar anak sebetulnya mengalami perasaan aman terhadap orang tuanya (secure attachment). Sementara ada sebagian kecil yang mengembangkan perasaan tidak aman (insecure).

Secure vs insecure
Studi attachment kemudian membuktikan bahwa anak  yangsecure cenderung berkembang lebih sehat dibandingkan anak insecure.Shaffer (2005) mengumpulkan berbagai penelitian yang membandingkan antara anak keduanya.

Anak yang secure terbukti memiliki karakteristik sebagai berikut:

Mampu memecahkan masalah dengan lebih baik
Lebih kreatif
Menunjukkan lebih banyak emosi positif
Lebih bisa bergaul karena lebih sensitif kepada teman-temannya
Lebih banyak inisiatif dan lebih mampu menjadi pemimpin
Lebih semangat belajar sehingga cenderung lebih berprestasi
Dan masih banyak kelebihan positif lain.

Sementara anak insecure cenderung menunjukkan karakteristik:

Lebih banyak menunjukkan kemarahan dan agresivitas
Sulit diatur
Mengalami gangguan psikologis
Dan beberapa kekurangan lain.

Tidak berhenti di masa kanak-kanak, ketika dewasa, individu secure pun berbeda dari invidu yang insecure.  Menurut  Miller (2012), mereka yangsecure cenderung lebih menghargai dan lebih bersahabat dengan pasangannya.  Sementara mereka yang insecure cenderung terus mencurigai pasangannya, lebih posesif, pemarah dan penuntut terhadap pasangannya sehingga cenderung bermasalah dengan pasangannya. Individu insecure lebih banyak terlibat dalam pertengkaran dengan orang lain di sekitarnya, bahkan banyak diantara mereka yang melakukan tindak kriminal.

Manfaat bagi orangtua
Bagaimana dengan orangtua yang berusaha menjalin attachment dengan anaknya? Ternyata mereka cenderung mengalami perkembangan individu yang lebih positif pula seperti berkurangnya egoisme, lebih bertanggung jawab, bahkan secara umum lebih bahagia. Artinya menjalin attachment tidak hanya menguntungkan buat perkembangan anak, namun juga menguntungkan untuk perkembangan orang tuanya.

Dua kata kunci
Ainsworth menekankan 2 kata kunci untuk meningkatkan kualitas attachment; sensitif dan responsif. Sensitif artinya orangtua betul-betul memahami apa yang sungguh dibutuhkan (bukan sekadar diinginkan) oleh anak. Contoh, orangtua perlu segera paham apa arti tangisan anak, apakah ia lapar, mengantuk, lelah atau karena lainnya. Responsif artinya segera mungkin memenuhi kebutuhan anak. Contoh ketika anak terjatuh, orangtua langsung menghentikan kegiatannya

Attachment yang secure buat anak-anak

Bagaimana menciptakan bentuk attachment yang secure untuk anak-anak. Ide-ide di bawah ini bisa dicoba :

0-6 bulan Menyusui bayi bukan hanya memberikan ASI tetapi membentuk attachment dengan cara pelukan, tatapan yang hangat dan diajak ngobrol.

6-12 bulan Terkandang menggendong dan memeluk perlu dilakukan pada anak namun kita juga harus memberikan kesempatan anak untuk mengeksplorasi dunianya sendiri.

Batita Pastikan anak memiliki rutinitas harian misalnya makan, bermain dan tidur. Adanya keteraturan membuat anak merasa lebih aman karena ia bisa memprediksi apa saja yang harus ia lakukan.

Balita Ajak anak bermain apa yang digemari dan ajak pula ia mengobrol suatu topik dengan menggunakan bahasa yang mereka pahami. Pada beberapa anak di usia ini akan banyak melakukan kenakalan-kenakalan yang akan menguji kesabaran kita sebagai orang tua. Disini kita di tuntut untuk tegas kepada mereka. Bukan berarti harus marah dan menyalahkan semua kenakalan mereka. Namun tetap mengarahkan dan mengingatkan agar mereka tidak bersikap seperti itu lagi. Kita tidak usah terlalu khawatir dengan kenakalan tersebut karena itu semua termasuk fase yang akan dialami setiap anak.

Anak usia sekolah Ketika anak mulai disibukkan oleh rutinitas sekolah, berikan dukungan dengan menemani ia belajar. Ketika anak mendapat nilai buruk jangan langsung dimarahi, namun bantulah ia mengatasi permasalahannya. Dukungan dan perhatian kita sangat berarti bagi mereka. Jika anda sibuk, luangkanlah waktu sebentar walau hanya untuk menemaninya mengerjakan PR.

Bagi Ayah:

Setiap orang tua perlu menyadari seberapa dekat dirinya dengan sang buah hati, termasuk ayah. Sebagai orang tua, kita perlu berupaya untuk merespon kebutuhan emosional anak, sehingga anak pada akhirnya merasa dimengerti dan dihargai. Setiap anak memiliki kebutuhan akan afeksi dan perhatian yang berbeda, tergantung kepribadian dan tempramennya.
Bonding atau keterikatan tidak hanya terjadi pada Ibu dan bayi saja. Saat ini ayah juga bisa memiliki dan menciptakan keterikatan yang erat dengan si kecil. Beberapa dari para ayah mungkin akan bertanya mengenai apa yang dapat ayah lakukan untuk menciptakan bonding dengan si kecil?
Beberapa kegiatan berikut dapat ayah coba untuk menciptakan bonding dengan si kecil:

Mengusap perut Ibu dan mulai mengajak bicara si kecil 
Sejak si kecil masih dalam kandungan, ayah sudah dapat memulai melakukan bonding dengan si kecil dengan cara mengusap perut Ibu dan mengajak si kecil berbicara. Cara ini di yakini akan membuat si kecil merasa aman, nyaman, terlindungi, dan si kecil akan merasa disayangi. Memberikan komunikasi yang intensif dengan mengajak bicara si kecil sejak masih didalam kandungan juga diyakini akan menciptakan dan membangun bonding yang kuat antara ayah dan si kecil.

Menghadiri kelahiran si kecil 
Usahakan untuk ayah menghadiri kelahiran si kecil, selain kehadiran ayah akan memberikan semangat untuk Ibu, kehadiran ayah di saat si kecil dilahirkan akan membuat si kecil melihat untuk pertama kalinya siapa ayah dan ibunya. Apabila keadaan memungkinkan dan dokter mengizinkan, ayah dapat memotong tali pusat si kecil setelah dilahirkan. Hal ini dapat menciptakan ikatan batin antara ayah dan si kecil.

Ikut serta dalam membesarkan si kecil 
Ayah juga harus ikut serta dalam membesarkan si kecil, ayah harus memberanikan diri untuk menggendong si kecil, memandikan si kecil, menggantikan popok, memakaikan baju, ikut menyuapi si kecil, menemani Ibu saat si kecil diajak kedokter untuk imunisasi atau pemeriksaan rutin, membacakan dongeng sebelum si kecil tidur.

Mengajak si kecil bermain 
Bermain dapat menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan dan juga dapat menjadi cara untuk ayah menunjukan kecintaan dan menjalin kedekatan dengan si kecil.

Semakin banyak dan semakin sering ayah melakukan kegiatan bersama si kecil, maka akan semakin memperat ikatan antara ayah dengan si kecil.
Jangan biarkan anak kita merasa lebih nyaman berada dengan orang lain dibandingkan bersama orang tuanya sendiri. Sesibuk apapun, luangkanlah waktu untuk mereka. Kebutuhan mereka bukan sekedar materi namun perhatian dan waktu luang dari orang tua. Buatlah mereka merasa bangga dan bahagia menjadi anak anda.

0

Kebiasaan nakal ini adalah sebuah fase

image

Jika Anda sedang membesarkan anak balita, mungkin akrab dengan kata-kata, “Oh, itu mungkin hanya sebuah fase,” ketika Si Kecil berulah.Tapi benarkah itu?

Berikut adalah 8 kebiasaan balita yang sekedar fase masa pertumbuhan, seperti dilansir dari Parentdish.com.

Terbangun di malam hari

Saat baru lahir, sudah menjadi fase bayi untuk menangis di tengah malam. Jangan khawatir, ini akan menjadi kenangan yang meredup seiring bertambahnya usia Si Buah Hati. Tunggu saja hingga beberapa bulan berikutnya, kebiasaan ini akan memudar seiring perasaan aman yang didapat dari orangtuanya.

Beberapa anak yang belum genap berusia 2 tahun juga mengalami regresi tidur atau kerap terbangun di tengah malam. Jangan terlalu mengambil hati, cukup tenangkan dan beri pengertian untuk tidur kembali karena Anda akan selalu mengawasinya kendati tak selalu bersamanya di tempat tidur. Saat kecerdasan anak sudah mulai semakin berkembang, anak akan memahaminya. Memang, akan sulit pada awal mengenalkan konsep tidur di kamar sendiri, namun lama kelamaan ini akan hilang. Biarkan anak berangkat tidur dengan lampu menyala pada tahap-tahap awal. Namun setelah anak pulas, matikan lampu atau pasang lampu tidur.

Bencana popok

Pada usia-usia awal bayi, Anda mungkin beberapa kali mengalami popok yang belepotan kotoran atau becek karena terlalu penuh. Atau lebih parah lagi, bayi Anda buang kotoran saat sudah diganti popok atau saat dibuka popoknya. Alhasil, Anda kerepotan mencari popok pengganti untuk membereskannya.

Tenang saja, hal ini akan menghilang seiring transisi  yang dialami bayi mulai teradaptasi. Biasanya kebiasaan ini berkurang di saat bayi sudah mulai disapih, sudah berhenti minum ASI dan diganti susu formula, memahami rutinitas ganti popok, maupun nyaman dengan pencernaannya. Ini akan hilang seiring dengan proses tumbuh kembang bayi.

Tak mau mandi

Anak-anak terutama balita kerap berganti mood saat di kamar mandi. Semenit mereka asyik bermain bebek karet, tak diduga menit berikutnya mereka tak mau sama sekali di kamar mandi. Dan, keesokannya juga tak mau sama sekali masuk kamar mandi.  Tak ada bukti konklusif yang menjelaskan mengapa banyak balita tiba-tiba takut ke kamar mandi. Dan kebanyakan, hal ini sembuh dengan sendirinya.

Untuk membantu anak Anda melalui transisi ini, tetap lakukan rutinitas mandi mereka kendati mungkin mereka mandi di sebelah kamar mandi tetap menggunakan air dan handuk kecil. Sampai Anda dapat membujuk mereka kembali secara bertahap. Atau, Anda bisa selalu membujuk mereka dengan mainan mandi baru!

Ketakutan Tiba-tiba

Serupa dengan ketakutan ke kamar mandi, jangan heran jika sebelumnya jagoan kecil pemberani Anda yang  sebelumnya tak takut main perosotan dan ayunan, tiba-tiba menjadi penakut untuk pergi ke taman bermain. Bisa jadi ini karena Si Kecil baru saja sadar akan bahaya dan rasa sakit yang dialaminya atau dilihatnya ketika berada di taman bermain. Namun lama kelamaan, rasa takut ini akan berkurang dan menghilang seiring kesadaran anak jika ada pengalaman luar biasa menyenangkan yang lebih berharga dari ketakutan itu sendiri.

Teruslah membujuknya ke taman bermain dengan lembut. Jika anak gusar untuk bermain ayunan, ajaklah duduk di ayunan bersama-sama. Lama kelamaan anak akan tertarik mencobanya kembali. Pendekatan lembut Anda akan membantu anak membangun kepercayaan dirinya kembali.

Favoritkan Ayah atau Ibu

Saat anak balita Anda menunjukkan perhatian dan kasih sayang yang lebih besar kepada pasangan (atau cenderung memfavoritkan salah satu orangtuanya), memang terasa menyakitkan. Jangan gusar, kebiasaan memfavoritkan salah satu orangtua ini akan berganti-ganti seiring waktu. Jadi, nikmati saja waktu yang dimiliki dan akan tiba saatnya Anda menjadi favoritnya.

Berteriak-teriak

Balita suka berteriak atau menjerit. Baik itu merupakan eksperimen pita suara atau menemukan cara baru untuk mendapatkan perhatian orangtua, tentunya sangat menguji kesabaran Anda bukan?

Jika kecenderungan pada cara anak untuk mencoba kemampuan pita suara, ajaklah anak mencoba gaya lain seperti berbisik atau bersuara rendah. Namun jika anak kerap melakukannya untuk mendapat perhatian, tegaskan jika apa yang dilakukannya tak akan berhasil.

Memukul dan menggigit

Jangan kaget jika mendadak Anda dilapori pihak Pre-School jika balita Anda  telah memukul atau menggigit anak lain. Tenang, ini bukan  refleksi Anda sebagai orangtua atau anak  sebagai pribadi. Kemampuan komunikasi yang terbatas untuk mengekspresikan keinginan melalui kosa kata ditambah kontrol  diri yang masih minimal merupakan penyebab balita menyerang teman bermainnya.

Pastikan anak memahami bahwa ini bukan perilaku yang dapat diterima. Dan, cobalah tetap tenang sehingga Anda memberikan contoh atau teladan yang dapat diterimanya.

Memasukkan jari ke tenggorokan

Percaya atau tidak, anak-anak suka memasukkan jari mereka ke tenggorokan tanpa sebab. Bahkan hal ini kerap dilakukan hingga  mereka muntah. Kendati ini bukan sifat balita normal,  fase ini merupakan tahap dimana balita mulai memahami gagasan sebab dan akibat. Anak-anak memulai eksplorasi dari  tubuh mereka sendiri dengan melakukan sedikit trik yang menurut mereka menyenangkan.

Dan setelah mereka menyadari jika apa yang dilakukan  membuat Anda pusing tujuh keliling, mereka tak segan mengulang cara yang sama untuk perhatian orangtuanya. Cara terbaik menghindari anak mengulang memasukkan jari ke tenggorokan adalah jaga reaksi Anda tetap stabil.

Laili Damayanti #TabloidNova

0

Kapan anak saya bisa bicara ya bu?

image

Itulah pertanyaan yang sering terlontar dari orang tua murid kepada saya juga kepada terapis lainnya.

Sebenarnya semua tergantung kepada kita. Kita yang dapat mengevaluasi sendiri. Apakah kita sudah melakukan yang terbaik atau kita merasa lelah padahal baru melakukan sedikit usaha. Bisa dilihat juga dari materi atau layanan yang diberikan. Apakah sesuai atau tidak dengan anak anda.
Anak yang dapat berkomunikasi dengan baik adalah dambaan setiap orang tua. Melihat tumbuh kembang anak yang baik adalah kebahagiaan yang tak tertandingi dari apapun. Maka memang wajar jika orang tua sangat berharap anaknya yang belum dapat berbicara dapat segera berbicara.

Berdasarkan kondisi tersebut di atas banyak orangtua anak autis sangat khawatir dengan perkembangan kemampuan komunikasi anaknya. Karena itu, mereka berusaha untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dengan melatih anak untuk berbicara. Padahal melatih berbicara saja belum tentu tepat, apalagi pada anak autis yang memang nonverbal. Mereka dapat berkomunikasi melalui gerakan tubuh ataupun bahasa isyarat. Tidak sedikit juga anak autis atau anak berkebutuhan khusus lainnya merasa terpaksa dan merasa gagal saat mereka diharuskan belajar berkomunikasi verbal. Terkadang kegagalan ini menjadi salah satu penyebab tantrum pada anak autis dan abk lainnya.

Kemampuan dalam berbahasa dapat dilihat dari sejauhmana seseorang dapat memahami apa yang orang lain maksud dan menyampaikan apa yang diinginkan. Menurut Alloy (2005) dalam Yuwono (2012:63) ‚ÄúAspek bahasa dapat dibagi dua yaitu Receptive Language (bahasa reseptif) dan Expresive Language (bahasa ekspresif)‚ÄĚ. Bahasa reseftif adalah kemampuan pikiran manusia untuk memahami apa yang diucapkan orang lain. Sedangkan bahasa ekspresif adalah kemampuan untuk mengungkapkan atau mengkomunikasikan pikiran dan keinginan.

Pada tahapan bahasa reseptif, anak mampu menjalankan perintah sederhana, mampu menirukan beberapa gerakan dan mengenal banyak nama nama benda, ekspresi, kata kerja, anggota keluarga dll. Jangan lelah untuk terus memperkenalkan banyak hal kepada anak. Walaupun anak belum dapat menirukan atau menyebutkan nama benda yang dimaksud, namun pada tahapan ini anak menyerap banyak stimulus yang diberikan. Perkenalkan kepada anak benda benda disekitar yang dekat daan yang disukainya. Itu akan lebih mempermudah anak mengingat.
Jika anak sudah pada tahapan ini, orang tua tidak perlu khawatir. Berarti tidak lama lagi anak akan mampu berbicara walau mungkin tidak langsung mengeluarkan banyak kata atau kalimat. Setidaknya anak memahami apa yang diperintahkan atau apa yang dimaksud oleh orang disekitarnya.

Pada tahapan selanjutnya yaitu bahasa ekspresif. Pada tahapan ini anak sudah mulai mengeluarkan beberapa kata walau dengan pelafalan yang belum tepat. Mungkin pada beberapa kata yang mudah dan sering diucapkan anak dapat menyebutkannya dengan baik. Teruslah melatih dan memberi rangsangan agar anak dapat menirukan beberapa suku kata, kata bahkan kalimat. Jangan lupa memberikah reward setiap anak melakukan kegitan yang benar untuk terus memotivasinya.
Pada tahapan ini juga anak mulai dapat mengungkapkan apa yang diinginkannya melalui beberapa kata yang mewakili keinginannya. Anak juga mulai memanggil anggota keluarga seperti mama, papa, dan lain lain.

Terapi wicara adalah terapi yang baik diberikan kepada anak dengan kesulitan bicara. Jangan lupa juga selalu melakukan komunikasi dengan terapisnya dan mengulang dirumah materi yang telah diajarkan agar perkembangan anak lebih cepat.
Namun jika kendala anak bukan hanya pada bicaranya saja, misalnya anak belum dapat bersosialisasi dengan lingkungan, belum mengerti perintah sederhana, belum bisa berkonsentrasi dengan baik dan gangguan perkembangan lainnya yang tidak sesuai dengan usianya maka sebaiknya berikan pula layanan terapi perilaku kepada anak. Terapi perilaku bukan hanya untuk anak autis saja. Anak dengan gangguan perkembangan lainpun alangkah baiknya diberikan layanan ini. Namun sayangnya kebanyakan orang tua hanya mengejar kamampuan bicaranya anak saja tanpa melihat bahwa anak tersebut membutuhkan layanan lain untuk perkembanganya.

Perlu diketahui juga bahwa keberhasilan semua pembelajaran ataupun terapi bergantung pada beberapa hal dibawah ini:

1. Intensitas terapi
2. Berat ringannya gangguan yang dialami
3. Pengulangan materi dirumah
4. Usia awal terapi

Maka deteksi dini pada anak berkebutuhan khusus sangatlah penting agar anak dapat segera mendapatkan layanan yang tepat.

Tetap berusaha dan yakinlah tak ada usaha yang tak membuahkan hasil.
Tetap berdoa, lakukan yang terbaik dan jangan menyerah. Semangat kita adalah dorongan anak untuk terus berkembang dengan baik.
Semoga kita semua selalu diberi kesabaran dan semangat yang luar biasa untuk selalu mendukung dan membimbing mereka. Makhluk Tuhan yang paling special ūüėėūüėė