0

Mengenal Lebih Dekat Dengan Terapi Wicara

Apa itu Terapi Wicara?

Terapi wicara adalah ilmu kedokteran yang menangani evaluasi, diagnosis, dan pengobatan gangguan penyebab ketidakmampuan bicara dan menelan. Terapi wicara memiliki lingkup yang luas. Terapis wicara menangani pasien dari berbagai usia dengan gangguan yang berbeda. Ada pula sub-spesialisasi yang khusus menangani anak. Terapi wicara bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Dengan diberikannya layanan terapi wicara bisa pada anak-anak, kemampuan bicara merrka akan lebih baik. Selain itu, terapi wicara juga bermanfaat untuk keterampilan mengunyah anak dan juga bisa menambah nafsu makan anak. Intervensi sedini mungkin pada anak yang memiliki hambatan bicara sangat berpengaruh terhadap hasil yang didapatkan nantinya.

Siapa saja yang perlu mendapatkan layanan terapi wicara?

Terapi wicara dibutuhkan oleh pasien dengan masalah bahasa, komunikasi, dan menelan karena gangguan kesehatan, harus menjalani terapi wicara. Gangguan komunikasi merujuk pada ketidakmampuan seseorang dalam menerapkan dan memahami pembicaraan dan berbahasa sebagai cara bersosialisasi. Gangguan ini mencakup keterlambatan bicara, perubahan suara, tidak mampu memahami pembicaraan atau berbicara dengan baik.

Contoh-contoh gangguan bicara adalah:

  • Apraksia verbal pada anak
  • Gagap
  • Gangguan artikulasi atau bicara tidak jelas
  • Disartria atau gangguan artikulasi karena kerusakan saraf pusat
  • Gangguan otot orofasial
  • Kesulitan belajar, dalam membaca, mengeja, atau menulis
  • Mutisme
  • Afasia atau gangguan berbahasa
  • Gangguan irama bicara
  • Lisp atau tidak mampu melafalkan huruf dengan baik

Gangguan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk:

  • Kelainan pertumbuhan, seperti celah bibir dan langit mulut
  • Gangguan pendengaran
  • Gangguan saraf
  • Cedera otak

Namun, dalam kasus tertentu, penyebab gangguan ini tidak diketahui sama sekali.

Terapi wicara sangat penting untuk gangguan yang menyebabkan disfagia atau kesulitan menelan, seperti:

  • Penyakit Parkinsonmultiple sclerosis
  • Distrofi otot
  • Lumpuh otak
  • Autisme
  • Gangguan pendengaran
  • Penyakit asam lambung
  • Esofagitis
  • Kanker
  • Stroke
  • Sindrom pasca-polio
  • Skleroderma
  • Cedera sumsum tulang

Dimana layanan terapi wicara dapat ditemukan?

Saat ini banyak tempat yang menyediakan layanan terapi wicara. Seperti di rumah sakit, klinik-klinik, pusat tumbuh kembang anak, ataupun layanan home visit seperti BHB (Bintang Hati Bunda). Seorang terapis wicara adalah seorang ahli di bidang wicara. Namun untuk kebutuhan ABK, masih bisa ditangani oleh terapis lainnya yang pada dasarnya mengetahui metode dan cara pembelajaran terapi wicara sendiri sesuai kebutuhan anak.
Kapan anak harus mendapatkan layanan ini?

Sebagai orang tua, kita sebaiknya mengetahui tahapan perkembangan anak setiap bulan atau tahunnya. Berikan stimulus disetiap aspek perkembangannya termasuk aspek komunikasi/ bicaranya agar perkembangan anak dapat berkembang sesuai usianya. Menurut dokter spesialis anak, batas toleran anak belum dapat bicara sedikitpun (babling, mengoceh) adalah 18 bulan. Jika sudah begitu, segeralah konsultasikan ke dokter. Memang perkembangan setiap anak berbeda-beda termasuk pada aspek bicaranya. Namun, tidak ada salahnya kita sebagai orang tua lebih cepat tanggap dengan perkembangan anak. Lebih cepat ditangani, maka akan lebih baik kan dari pada terlambat, kita tidak bisa mengulang waktu yang sudah dilewati. Waktu yang baik untuk penerapan terapi wicara (untuk ABK) adalah pada saat usia anak dibawah 3 tahun. Semakin cepat anak mendapatkan penanganan, semakin cepat perkembangan yang akan dirasakan. Ditambah lagi dengan intensitas terapi yang baik dan pengulangan materi dirumah. Pasti anak akan lebih cepat berkembang.

Untuk beberapa anak berkebutuhan khusus biasanya sebelum mendapatkan layanan terapi wicara, anak sebaiknya mendapatkan terapi perilaku terlebih dahulu/ berdampingan. Karena pada banyak kasus ABK apalagi anak autis, lebih baik mereka belajar kepatuhan dan kontak mata dulu sebelum melanjutkan ke program terapi wicara agar dapat belajar dengan efektif.

Untuk kasus orang dewasa, terapi diberikan setelah saran dari dokter (sesuai kebutuhan).

Apa saja yang dilakukan saat terapi wicara?



Komponen dan metode dalam terapi wicara, antara lain:

  • Fonasi
  • Resonansi
  • KelancaranIntonasi
  • Variasi pola titinada
  • Suara dan pernafasan

Komponen bahasan dan komunikasi yang terlibat adalah:

  • Fonologi
  • Manipulasi suara
  • MorfologiSintaksisTata bahasa
  • Semantik
  • Interpretasi atau penerjemahan tanda dan lambang komunikasi
  • Pragmatis

Program pengobatan/ pembelajaran terapi wicara berbeda-beda setiap pasiennya tergantung kebutuhan dan hambatan yang dialami.

Untuk anak usia sekolah, terapi dipadukan dengan layanan edukasi khusus, yang dikenal sebagai IEP (Individualized Education Program). Program ini untuk mendidik anak sesuai dengan tingkat dan fase yang dapat dipahami.

Beberapa teknik yang juga diterapkan adalah:

  • Bersiul, untuk meningkatkan penguasaan otot-otot mulut, tenggorokan, dan lidah
  • Mainan dan boneka tangan
  • Pemadu suara
  • Teknologi asistif
  • Permainan berbicara
  • Kartu bergambar

Referansi: https://www.google.co.id/amp/s/www.docdoc.com/id/info/specialty/terapis-wicara/amp

0

Mengenal lebih dekat dengan terapi okupasi

Apa itu terapi okupasi?
Terapi Okupasi adalah bentuk layanan kesehatan kepada masyarakat atau pasien yang mengalami gangguan fisik dan atau mental dengan menggunakan latihan/ aktivitas mengerjakan sasaran yang terseleksi (okupasi) untuk meningkatkan kemandirian individu pada area aktivitas kehidupan sehari-hari, produktivitas dan pemanfaatan waktu luang dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Tujuan utama dari Okupasi Terapi adalah memungkinkan individu untuk berperan serta dalam aktivitas keseharian. Seperti untuk anak berkebutuhan khusus yang pada umumnya memiliki kemampuan motorik halus yang perlu dilatih agar dapat mengerjakan berbagai aktifitas dengan mandiri seperti makan, minum, memakai dan melepas pakaian, memegang pensil dll.

Siapa saja yang harus mendapatkan layanan terapi okupasi?

Terapi okupasi sangat dibutuhkan untuk anak berkebutuhan khusus. Diperlukan perhatian khusus dan energi ekstra untuk mempelajari keterampilan dasar dalam perawatan diri (makan, mandi, dsb) atau keterampilan akademiknya. Contoh: menulis. Melakukan aktivitas menulis memerlukan keterampilan yang komplek, diantaranya: integrasi visual motorik (koordinasi mata dan tangannya), kognitif perceptual, perencanaan gerak, kekuatan otot, hubungan ruang dan jarak, dan masih banyak komponen lain yang dipelukan didalamnya. Disini peran terapi okupasi yaitu mempersiapkan dan melatih anak agar siap melakukan berbagai kegiatan sehari-harinya dengan mandiri.

Untuk kondisi dewasa, yang biasa ditangani okupasi Terapis diantaranya kondisi neurology dan ortopedi. Contohnya, stroke, frozen shoulder (bahu beku), TBI (Traumatic brain injury/cidera kepala), SCI (Spinal cord injury/paraplegia), kondisi luka bakar, osteoarthritis, remathoid arthritis, fraktur (patah tulang), amputasi, dan sebagainya. Dengan menggunakan Okupasi Terapi, dapat membantu proses penyembuhan seorang individu atau pasien agar mandiri dan tidak bergantung pada orang lain dalam melakukan aktivitas sehari-harinya.

Dimana layanan terapi okupasi bisa didapatkan?

Saat ini banyak tempat yang menyediakan layanan terapi perilaku. Seperti di rumah sakit, klinik-klinik, pusat tumbuh kembang anak, ataupun layanan home visit seperti BHB (Bintang Hati Bunda). Seorang terapis okupasi adalah seorang ahli di bidang okupasi. Namun untuk kebutuhan ABK, masih bisa ditangani oleh terapis lainnya yang pada dasarnya mengetahui metode dan cara pembelajaran terapi okupasi itu sendiri.

Kapan anak harus mendapatkan layanan ini?

Waktu yang tepat untuk penerapan terapi okupasi (untuk ABK) adalah pada saat usia anak dibawah 3 tahun. Semakin cepat anak mendapatkan penanganan, semakin cepat perkembangan yang akan dirasakan. Ditambah lagi dengan intensitas terapi yang baik dan pengulangan materi dirumah. Pasti anak akan lebih cepat berkembang.

Untuk kasus orang dewasa, terapi diberikan setelah saran dari dokter (sesuai kebutuhan).

Apa saja yang dilakukan selama terapi okupasi?

  • Untuk Anak Berkebutuhan Khusus
  1. Terapi khusus untuk mengembalikan fungsi fisik, meningkatkan ruang gerak sendi, kekuatan otot dan koordinasi gerakan. Misalkan dengan kegiatan menggunting, massage tangan, menyobek, meronce, pasang puzzle, menempel, menjepit kertas, meremas, mengenal halus dan kasar dll.
  2. Mengajarkan aktivitas kehidupan sehari-hari seperti makan, berpakaian, belajar menggunakan fasilitas umum (telpon, televisi, dan lain-lain), baik dengan maupun tanpa alat bantu, mandi yang bersih, dan lain-lain.
  3. Membantu pasien untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan rutin di rumahnya, dan memberi saran penyederhanaan (simplifikasi) ruangan maupun letak alat-alat kebutuhan sehari-hari.
  • Untuk orang dewasa
  1. Meningkatkan toleransi kerja, memelihara dan meningkatkan kemampuan yang masih ada.
  2. Menyediakan berbagai macam kegiatan untuk dijajaki oleh pasien sebagai langkah dalam pre-vocational training. Dari aktivitas ini akan dapat diketahui kemampuan mental dan fisik, kebiasaan kerja, sosialisasi, minat, potensi dan lain-lainnya dari si pasien dalam mengarahkannya ke pekerjaan yang tepat dalam latihan kerja.
  3. Membantu penderita untuk menerima kenyataan dan menggunakan waktu selama masa rawat dengan berguna.
  4. Mengarahkan minat dan hobi agar dapat digunakan setelah kembali ke keluarga.

Materi yang didapatkan setiap anak/ orang dewasa berbeda-beda sesuai kemampuan dan kebutuhan yang dilihat dari hasil asesmen pada awal terapi atau hasil rujukan dokter.

Semoga bermanfaat. 

0

Mengenal lebih dekat dengan terapi perilaku

Apa itu terapi perilaku?
Terapi perilaku adalah suatu pendekatan atau intervensi kepada seseorang untuk merubah atau menghilangkan perilaku negatif menjadi perilaku yang sewajarnya dan tidak membahayakan dirinya sendiri ataupun orang lagi. Melalui terapi perilaku, anak akan belajar banyak konsep dan salah satunya adalah konsep sebab akibat. Adapun tujuan terapi perilaku ini adalah supaya terciptanya perilaku baru yang lebih baik dari sebelumnya, anak bisa melakukan kegiatan sehari-hari dengan mandiri tidak bergantung pasa orang lain dan anak dapat bersosialisasi dengan teman-teman dan lingkungannya.

Siapa saja yang harus mendapatkan layanan terapi perilaku?

Terkadang kita merasa aneh dan was was mendengar kata terapi. Tak sedikit juga orang tua yang beranggapan bahwa terapi (khususnya terapi perilaku) adalah penanganan untuk anak dengan gangguan yang serius. Padahal terapi dapat diberikan bukan hanya kepada anak dengan gangguan serius saja. Anak yang suka marah-marah (emosi), anak yang terlalu pasif, anak yang sulit konsentrasi belajar, anak yang sulit di atur bahkan anak yang baru mempunyai adik (cemburu) yang selalu bertingkahpun bisa mendapatkan layanan terapi ini (pembentukan karakter).

Untuk anak yang sudah terlihat memiliki hambatan perkembangan dari segi sosial, bicara dan tingkah lakunya seperti autisme, speech delay, down syndrom, celebral palsy, disleksia dll baiknya segera diberikan layanan ini (sesuai kebutuhan). Biasanya untuk anak speech delay, sebelum mengikuti terapi wicara sebaiknya diberikan layanan terapi perilaku terlebih dahulu (atau berdampingan) karena tidak sedikit anak dengan keterlambatan bicara pasti memiliki hambatan sosial juga yang perlu diarahkan.

Dimana layanan terapi perilaku bisa didapatkan?

Saat ini banyak tempat yang menyediakan layanan terapi perilaku. Seperti di rumah sakit, klinik-klinik, pusat tumbuh kembang anak, ataupun layanan home visit seperti BHB (Bintang Hati Bunda). Namun sayang, setau saya layanan terapi ini belum banyak ditemukan di SLB- SLB Bandung. Hanya beberapa SLB yang menyediakan layanan ini.

Kapan anak harus mendapatkan layanan ini?

Waktu yang tepat untuk penerapan terapi perilaku (untuk ABK) adalah pada saat usia anak dibawah 3 tahun. Semakin cepat anak mendapatkan penanganan, semakin cepat perkembangan yang akan dirasakan. Ditambah lagi dengan intensitas terapi yang baik dan pengulangan materi dirumah. Pasti anak akan lebih cepat berkembang.

Terapi perilaku sebaiknya diberikan pada awal penanganan pada anak berkebutuhan khusus sebelum dilakukannya terapi lainnya dengan tujuan agar anak lebih paham dan mengerti instruksi dan sudah bisa duduk diam apalagi untuk anak autism dan hyperaktif. Layanan terapi perilaku lebih didahulukan sebelum terapi wicara.

Jika untuk anak dengan gangguan atau hambatan perkembangan lainnya seperti kesulitan mengontrol emosi, sulit konsentrasi juga anak yang tidak bisa diatur/ tidak disiplin maka sebaiknya, setelah dirasakan tingkah lakunya mengganggu aspek perkembangan lainnya maka segeralah diberi tindakan terapi perilaku.

Apa saja yang dilakukan anak selama terapi perilaku?

Selama terapi perilaku, kunci pertama yang diajarkan adalah pembentukan kontak mata dan kepatuhan. Ini berlaku untuk semua anak sesuai kekampuannya. Terlebih untuk anak autis yang memang sulit melakukan kontak mata dan kepatuhan. 

Kontak mata saat dipanggil, kontak mata saag instruksi juga kontak mata saat dipanggil dari jauh. Kepatuhan saat menjalankan instruksi ataupun materi yang diberikanpun butuh pembiasaan. Dari mulai instruksi yang sederhana seperti duduk dan berdiri.

Metode ABA adalah metode yang banyak dipakai untuk penanganan melalui terapi perilaku. Metode ini terukur dan terstruktur dengan baik. Adapun kurikulum didalamnya meliputi:

  1. Kemampuan kontak mata dan kepatuhan
  2. Kemampuan menirukan (gerakan)
  3. Kemampuan bahasa reseptif
  4. Kemampuan bahasa ekspresif
  5. Kemampuan pra akademik
  6. Kemampuan akademik dan
  7. Kemampuan bina diri

Semua materi yang diberikan sudah terstruktur dari mulai kegiatan yang mudah hingga yang sulit dan dapat di ukur karena selalu ada catatan hasil perkembangan setiap harinya, juga evaluasi setiap tiga bulan.

Materi yang didapatkan setiap anak berbeda-beda sesuai kemampuan dan kebutuhan anak yang dilihat dari hasil asesmen pada awal terapi.
Semoga bermanfaat bunda.*

0

Kapan anak saya bisa bicara ya bu?

image

Itulah pertanyaan yang sering terlontar dari orang tua murid kepada saya juga kepada terapis lainnya.

Sebenarnya semua tergantung kepada kita. Kita yang dapat mengevaluasi sendiri. Apakah kita sudah melakukan yang terbaik atau kita merasa lelah padahal baru melakukan sedikit usaha. Bisa dilihat juga dari materi atau layanan yang diberikan. Apakah sesuai atau tidak dengan anak anda.
Anak yang dapat berkomunikasi dengan baik adalah dambaan setiap orang tua. Melihat tumbuh kembang anak yang baik adalah kebahagiaan yang tak tertandingi dari apapun. Maka memang wajar jika orang tua sangat berharap anaknya yang belum dapat berbicara dapat segera berbicara.

Berdasarkan kondisi tersebut di atas banyak orangtua anak autis sangat khawatir dengan perkembangan kemampuan komunikasi anaknya. Karena itu, mereka berusaha untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dengan melatih anak untuk berbicara. Padahal melatih berbicara saja belum tentu tepat, apalagi pada anak autis yang memang nonverbal. Mereka dapat berkomunikasi melalui gerakan tubuh ataupun bahasa isyarat. Tidak sedikit juga anak autis atau anak berkebutuhan khusus lainnya merasa terpaksa dan merasa gagal saat mereka diharuskan belajar berkomunikasi verbal. Terkadang kegagalan ini menjadi salah satu penyebab tantrum pada anak autis dan abk lainnya.

Kemampuan dalam berbahasa dapat dilihat dari sejauhmana seseorang dapat memahami apa yang orang lain maksud dan menyampaikan apa yang diinginkan. Menurut Alloy (2005) dalam Yuwono (2012:63) “Aspek bahasa dapat dibagi dua yaitu Receptive Language (bahasa reseptif) dan Expresive Language (bahasa ekspresif)”. Bahasa reseftif adalah kemampuan pikiran manusia untuk memahami apa yang diucapkan orang lain. Sedangkan bahasa ekspresif adalah kemampuan untuk mengungkapkan atau mengkomunikasikan pikiran dan keinginan.

Pada tahapan bahasa reseptif, anak mampu menjalankan perintah sederhana, mampu menirukan beberapa gerakan dan mengenal banyak nama nama benda, ekspresi, kata kerja, anggota keluarga dll. Jangan lelah untuk terus memperkenalkan banyak hal kepada anak. Walaupun anak belum dapat menirukan atau menyebutkan nama benda yang dimaksud, namun pada tahapan ini anak menyerap banyak stimulus yang diberikan. Perkenalkan kepada anak benda benda disekitar yang dekat daan yang disukainya. Itu akan lebih mempermudah anak mengingat.
Jika anak sudah pada tahapan ini, orang tua tidak perlu khawatir. Berarti tidak lama lagi anak akan mampu berbicara walau mungkin tidak langsung mengeluarkan banyak kata atau kalimat. Setidaknya anak memahami apa yang diperintahkan atau apa yang dimaksud oleh orang disekitarnya.

Pada tahapan selanjutnya yaitu bahasa ekspresif. Pada tahapan ini anak sudah mulai mengeluarkan beberapa kata walau dengan pelafalan yang belum tepat. Mungkin pada beberapa kata yang mudah dan sering diucapkan anak dapat menyebutkannya dengan baik. Teruslah melatih dan memberi rangsangan agar anak dapat menirukan beberapa suku kata, kata bahkan kalimat. Jangan lupa memberikah reward setiap anak melakukan kegitan yang benar untuk terus memotivasinya.
Pada tahapan ini juga anak mulai dapat mengungkapkan apa yang diinginkannya melalui beberapa kata yang mewakili keinginannya. Anak juga mulai memanggil anggota keluarga seperti mama, papa, dan lain lain.

Terapi wicara adalah terapi yang baik diberikan kepada anak dengan kesulitan bicara. Jangan lupa juga selalu melakukan komunikasi dengan terapisnya dan mengulang dirumah materi yang telah diajarkan agar perkembangan anak lebih cepat.
Namun jika kendala anak bukan hanya pada bicaranya saja, misalnya anak belum dapat bersosialisasi dengan lingkungan, belum mengerti perintah sederhana, belum bisa berkonsentrasi dengan baik dan gangguan perkembangan lainnya yang tidak sesuai dengan usianya maka sebaiknya berikan pula layanan terapi perilaku kepada anak. Terapi perilaku bukan hanya untuk anak autis saja. Anak dengan gangguan perkembangan lainpun alangkah baiknya diberikan layanan ini. Namun sayangnya kebanyakan orang tua hanya mengejar kamampuan bicaranya anak saja tanpa melihat bahwa anak tersebut membutuhkan layanan lain untuk perkembanganya.

Perlu diketahui juga bahwa keberhasilan semua pembelajaran ataupun terapi bergantung pada beberapa hal dibawah ini:

1. Intensitas terapi
2. Berat ringannya gangguan yang dialami
3. Pengulangan materi dirumah
4. Usia awal terapi

Maka deteksi dini pada anak berkebutuhan khusus sangatlah penting agar anak dapat segera mendapatkan layanan yang tepat.

Tetap berusaha dan yakinlah tak ada usaha yang tak membuahkan hasil.
Tetap berdoa, lakukan yang terbaik dan jangan menyerah. Semangat kita adalah dorongan anak untuk terus berkembang dengan baik.
Semoga kita semua selalu diberi kesabaran dan semangat yang luar biasa untuk selalu mendukung dan membimbing mereka. Makhluk Tuhan yang paling special 😘😘

0

PRIVATE home visit (Bandung)

Bintang hati bunda private home visit bandung memberikan layanan untuk:
◼ Anak Berkebutuhan Khusus (Autism, Cerebral palsy, PDD-Nos, kurang konsentrasi, Disleksia, Disgrafia, Diskalkulia, Speech delay, Hyperactif)
*Terapi perilaku (Metode ABA)
*Terapi wicara
*Terapi okupasi

Pembelajaran yang menyenangkan akan menumbuhkan minat baca dan tulis anak tanpa merasa tertekan.
Terapis/ guru adalah seorang yang berpengalaman dibidangnya dan lulusan Pendidikan Luar Biasa di Universitas swasta bandung.
Awal terapi akan dilakukan asesmen terlebih dahulu pada anak agar dapat terlihat sejauhmana kemampuan dan kabutuhannya dalam pembelajaran. Laporan hasil belajar di lakukan setiap selesai terapi. Rapotan/ evaluasi diadakan 3 bulan sekali.

✨ Free pendaftaran dan konsultasi ✨
More info: 

Wulan Tresnawati S.Pd

WA 082115457261

IG @bintanghatibunda

1

Jenis Terapi Untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Banyak terapi yang dapat diberikan untuk anak berkebutuhan khusus terutama untuk anak autis. Semua jenis terapi itu baik diberikan pada ABK sesuai yang dibutuhkan. Hal yang paling penting adalah sikap orang tua terhadap anak dirumah. Agar perkembangan anak dapat meningkat dengan baik, maka selain anak melakukan terapi atau sekolah, orang tua di rumahpun baiknya menjalankan materi yang telah diterima anak disekolah.
Dibawah ini adalah beberapa jenis terapi untuk anak autis dan anak berkebutuhan lainnya.

Applied Behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bisa diukur kemajuannya. Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.

Terapi Wicara
Gangguan bicara dan bahasa bisa diakibatkan adanya gangguan di pusat bahasa pada otak. Namun, bisa juga diakibatkan oleh gangguan di wilayah perifer atau tepi. Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang.
Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.

Terapi Okupasi
Terapi okupasi adalah usaha penyembuhan melalui kesibukan atau pekerjaan tertentu. Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot -otot halusnya dengan benar. Terapi okupasi juga dapat diberikan pada anak dengan berkebutuhan khusus lainnya untuk melatih motorik halusnya.

Terapi Bermain
Terapi bermain merupakan usaha penyembuhan untuk mencapai perkembangan fisik, intelektual, emosi dan sosial anak secara optimal. Pertumbuhan dan perkembangan intelektual dilatih ketika anak menemukan, memeriksa dan menerangkan atau memberi tanda atas rengsangan yang ditemukan saat bermain.

Terapi musik
Para ahli percaya bahwa musik dapat dijadikan wahana untuk kegiatan pendidikan, baik bagi anak normal maupun anak berkebutuhan khusus. Ruang lingkup terapi musik yaitu: a. menggerakan tubuh sesuai musik, bunyi atau suara, b. mendengarkan bunyi atau suara musik, c. menggunakan alat-alat instrumen atau alat musik, d. membunyikan alat bersama-sama, e. menyanyi dan f. bergerak atau bermain sesuai musik.

Terapi Biomedis
Dengan mengikuti terapi biomedis, orang tua dipadu selangkah demi selangkah membersihkan tubuh anak dari bahan-bahan yang mrngganggu metabolisme dan kerja sistem saraf. Dengan cara ini kemajuan anakpun dapat dimonitor dengan tepat dan penyebab autisme bisa diketahui dengan pasti. Ini memudahkan orang tua memperbaiki cara penanganan yanh salah, dan mengulangi cara penanganan yang bermanfaat.

Bersabarlah bunda untuk menunggu hasil dari usaha yang telah bunda lakukan demi anak bunda. Tak ada hasil yang sia sia. Terkadang kita berpikir bahwa anak tidak menunjukan perkembangan padahal terapi dan usaha lain sudah dijalankan. Tetapi, justru pikiran itu yang menunda keberhasilan anak. Jika bunda terus berpikir positif, rasakanlah setiap perkembangan dan perubahan anak. Karena selalu ada kejutan disetiap perkembangan yang mereka tunjukan. Jika tidak sekarang, mungkin suatu saat nanti.