0

Mengenal Lebih Dekat Dengan Terapi Wicara

Apa itu Terapi Wicara?

Terapi wicara adalah ilmu kedokteran yang menangani evaluasi, diagnosis, dan pengobatan gangguan penyebab ketidakmampuan bicara dan menelan. Terapi wicara memiliki lingkup yang luas. Terapis wicara menangani pasien dari berbagai usia dengan gangguan yang berbeda. Ada pula sub-spesialisasi yang khusus menangani anak. Terapi wicara bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Dengan diberikannya layanan terapi wicara bisa pada anak-anak, kemampuan bicara merrka akan lebih baik. Selain itu, terapi wicara juga bermanfaat untuk keterampilan mengunyah anak dan juga bisa menambah nafsu makan anak. Intervensi sedini mungkin pada anak yang memiliki hambatan bicara sangat berpengaruh terhadap hasil yang didapatkan nantinya.

Siapa saja yang perlu mendapatkan layanan terapi wicara?

Terapi wicara dibutuhkan oleh pasien dengan masalah bahasa, komunikasi, dan menelan karena gangguan kesehatan, harus menjalani terapi wicara. Gangguan komunikasi merujuk pada ketidakmampuan seseorang dalam menerapkan dan memahami pembicaraan dan berbahasa sebagai cara bersosialisasi. Gangguan ini mencakup keterlambatan bicara, perubahan suara, tidak mampu memahami pembicaraan atau berbicara dengan baik.

Contoh-contoh gangguan bicara adalah:

  • Apraksia verbal pada anak
  • Gagap
  • Gangguan artikulasi atau bicara tidak jelas
  • Disartria atau gangguan artikulasi karena kerusakan saraf pusat
  • Gangguan otot orofasial
  • Kesulitan belajar, dalam membaca, mengeja, atau menulis
  • Mutisme
  • Afasia atau gangguan berbahasa
  • Gangguan irama bicara
  • Lisp atau tidak mampu melafalkan huruf dengan baik

Gangguan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk:

  • Kelainan pertumbuhan, seperti celah bibir dan langit mulut
  • Gangguan pendengaran
  • Gangguan saraf
  • Cedera otak

Namun, dalam kasus tertentu, penyebab gangguan ini tidak diketahui sama sekali.

Terapi wicara sangat penting untuk gangguan yang menyebabkan disfagia atau kesulitan menelan, seperti:

  • Penyakit Parkinsonmultiple sclerosis
  • Distrofi otot
  • Lumpuh otak
  • Autisme
  • Gangguan pendengaran
  • Penyakit asam lambung
  • Esofagitis
  • Kanker
  • Stroke
  • Sindrom pasca-polio
  • Skleroderma
  • Cedera sumsum tulang

Dimana layanan terapi wicara dapat ditemukan?

Saat ini banyak tempat yang menyediakan layanan terapi wicara. Seperti di rumah sakit, klinik-klinik, pusat tumbuh kembang anak, ataupun layanan home visit seperti BHB (Bintang Hati Bunda). Seorang terapis wicara adalah seorang ahli di bidang wicara. Namun untuk kebutuhan ABK, masih bisa ditangani oleh terapis lainnya yang pada dasarnya mengetahui metode dan cara pembelajaran terapi wicara sendiri sesuai kebutuhan anak.
Kapan anak harus mendapatkan layanan ini?

Sebagai orang tua, kita sebaiknya mengetahui tahapan perkembangan anak setiap bulan atau tahunnya. Berikan stimulus disetiap aspek perkembangannya termasuk aspek komunikasi/ bicaranya agar perkembangan anak dapat berkembang sesuai usianya. Menurut dokter spesialis anak, batas toleran anak belum dapat bicara sedikitpun (babling, mengoceh) adalah 18 bulan. Jika sudah begitu, segeralah konsultasikan ke dokter. Memang perkembangan setiap anak berbeda-beda termasuk pada aspek bicaranya. Namun, tidak ada salahnya kita sebagai orang tua lebih cepat tanggap dengan perkembangan anak. Lebih cepat ditangani, maka akan lebih baik kan dari pada terlambat, kita tidak bisa mengulang waktu yang sudah dilewati. Waktu yang baik untuk penerapan terapi wicara (untuk ABK) adalah pada saat usia anak dibawah 3 tahun. Semakin cepat anak mendapatkan penanganan, semakin cepat perkembangan yang akan dirasakan. Ditambah lagi dengan intensitas terapi yang baik dan pengulangan materi dirumah. Pasti anak akan lebih cepat berkembang.

Untuk beberapa anak berkebutuhan khusus biasanya sebelum mendapatkan layanan terapi wicara, anak sebaiknya mendapatkan terapi perilaku terlebih dahulu/ berdampingan. Karena pada banyak kasus ABK apalagi anak autis, lebih baik mereka belajar kepatuhan dan kontak mata dulu sebelum melanjutkan ke program terapi wicara agar dapat belajar dengan efektif.

Untuk kasus orang dewasa, terapi diberikan setelah saran dari dokter (sesuai kebutuhan).

Apa saja yang dilakukan saat terapi wicara?



Komponen dan metode dalam terapi wicara, antara lain:

  • Fonasi
  • Resonansi
  • KelancaranIntonasi
  • Variasi pola titinada
  • Suara dan pernafasan

Komponen bahasan dan komunikasi yang terlibat adalah:

  • Fonologi
  • Manipulasi suara
  • MorfologiSintaksisTata bahasa
  • Semantik
  • Interpretasi atau penerjemahan tanda dan lambang komunikasi
  • Pragmatis

Program pengobatan/ pembelajaran terapi wicara berbeda-beda setiap pasiennya tergantung kebutuhan dan hambatan yang dialami.

Untuk anak usia sekolah, terapi dipadukan dengan layanan edukasi khusus, yang dikenal sebagai IEP (Individualized Education Program). Program ini untuk mendidik anak sesuai dengan tingkat dan fase yang dapat dipahami.

Beberapa teknik yang juga diterapkan adalah:

  • Bersiul, untuk meningkatkan penguasaan otot-otot mulut, tenggorokan, dan lidah
  • Mainan dan boneka tangan
  • Pemadu suara
  • Teknologi asistif
  • Permainan berbicara
  • Kartu bergambar

Referansi: https://www.google.co.id/amp/s/www.docdoc.com/id/info/specialty/terapis-wicara/amp

0

Mengatasi Phobia Sekolah pada Anak

Phobia sekolah adalah kecemasan atau ketidaknyamanan berada di sekolah.  Hal ini sering terjadi pada anak balita dan anak yang akan mulai masuk sekolah TK, SD ataupun SMP. kecemasan yang mereka rasakan membuat mereka enggan untuk pergi ke sekolah mereka akan melakukan trik atau alasan agar mereka tidak sekolah seperti menangis atau berpura-pura sakit agar orang tua bisa meng’iya’kan kemauannya untuk tidak sekolah. Keesokan harinya merekapun akan melakukan trik itu lagi karena dengan cara itu mereka berhasil untuk tidak pergi kesekolah lagi seperti hari-hari sebelumnya.

Ada beberapa penyebab phobia sekolah contohnya:

  • Pengalaman olok-olok teman
  • Pengalaman dimarahin guru
  • Tidak percaya diri
  • Tidak ingin pisah dengan orang tua/ibu
  • Tidak merasa nyaman dengan lingkungan
  • Malas belajar
  • Lingkungan baru
  • Anak sulit sosialisasi dan adaptasi

Adapun jenis phobia sekolah yaitu:

  1. Phobia jangka waktu pendekPhobia sementara hanya berlangsung pada awal sekolah selama 3 – 2 mingguan. Biasanya phobia ini terjadi pada anak usia balita (tidak mau berpisah dengan ibu) atau pada anak yang mulai masuk sekolah baru (adaptasi lingkungan dan orang baru).
  2. Phobia jangka waktu panjangPhobia jangka waktu lama biasanya berlangsung bertahun-tahun bahkan selama anak bersekolah disekolah itu. Hal ini terjadi karena pada awal sekolah (pada awal terjadi phobia) tidak ditangani dengan baik sehingga anak merasa terpola mengatur semua semaunya/atas kehendaknya. Sekolah dengan ditemani mama atau menolak sekolah jika ada kegiatan yang tidak disukainya. Jika ini sudah terjadi, anak merasa hal ini wajar dan anak tidak akan mendengarkan nasihat dari orang lain karena yang ia butuhkan hanya berada disamping ibunya setiap ia mau termasuk saat sekolah.

Keterikatan anak dengan ibu yang berlebihan dapat membuat pola perilaku anak yang ketergantungan dengan ibunya. Selain itu, anak yang tidak biasa belajar dirumahpun menjadi salah satu penyebab phobia sekolah. Anak tidak merasa nyaman disekolah karena disekolah ia harus belajar dan berpikir. Sedangkan dirumah, ia bisa main dan apapun yang ia mau bisa didapatkan. Persepsi anak yang mengalami phobia sekolah itu perlu kita luruskan. Anak harus mengerti pentingnya sekolah, serunya bermain dengan teman-teman di sekolah, belajar dengan nyaman dan menyenangkan dan menghapus persepsi beruk anak terhadap sekolahan beserta orang-orang di lingkungannya. Terkadang seorang ibu merasa tidak tega saat anaknya menangis dan menolak sekolah. Hal ini wajar saja, namun demi kebaikan dan kelancaran belajar anak, ibu harus belajar mencoba dan mempercayakan semua pada guru. Kepercayaan penuh terhadap guru akan membuat guru merasa dihargai dan berusaha lebih giat untuk memberikan layanan yang terbaik.
Ajaklah anak berdiskusi tentang hal apa saja yang membuat ia enggan pergi ke sekolah. Jika alasannya karena ketidak nyamanan dengan teman, guru atau lingkungannya, maka mintalah bantuan guru kelas untuk bersama-sama mengatasi masalah ini.
Phobia sekolah ini seperti hal sepele yang mungkin orang lain akan beranggapan bahwa  semua anak sama, akan mengalami phobia sementara. Namun beda halnya jika phobia yang berkelanjutan dan tidak ditangani dengan benar. Phobia sekolah akan berkelanjutan sampai anak besar dan pastinya akan membuat orang tua kebingungan.

Cara mengatasi phobia sekolah yaitu dengan menghadapi sekolah itu sendiri dan menekankan pentingnya sekolah. Apapun alasan yang dilakukan anak (manipulasi dengan menangis atau sakit), anak harus tetap berangkat kesekolah. Anak harus mengalami sendiri beberapa pengalaman disekolah dan merasakan serunya sekolah, amannya sekolah, senangnya bermain debgan teman teman dan hal positif lainnya jika sekolah. Dengan merasakan sendiri, pelan pelan persepsi buruk terhadap sekolah akan terhapuskan dan anak akan kembali percaya diri di sekolah. Jika anak dibiarkan tidak ingin sekolah atau sekolah dengan terus didampingi ibu, anak akan sulit mandiri dan phobia akan berkelanjutan.

Rangkulah anak oleh seluruh anggota keluarga, perbaiki kedekatan anak dengan anggota keluarga, agar anak tidak selalu dengan dengan ibunya.

Bila perlu, konsultasikan masalah phobia sekolah dengan psikolog agar orang tua tau penyebab dan cara yang tepat untuk mengatasinya. Jangan takut untuk berkonsultasi ke psikolog karena beranggapan  bahwa anak anda baik baik saja, psikolog adalah seorang ahli dalam bidang praktik psikologi, bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental. Siapa saja yang merasa mengalami ketidak wajaran tingkah laku atau kecemasan berlebihan terhadap sesuatu, bisa berkonsultasi ke psikolog.
Tetaplah berpikir positif dan tegas terhadap anak yang mengalami phobia. Phobia sekolah harus ditangani sedini mungkin maksimal sampai anak kelas 3 SD. Jika lebih dari itu, akan sulit merubah persepsi dari anak yang memiliki ketakutan akan sekolah.

0

Cara Mengajarkan Toilet Training Pada Anak

Umumnya balita bisa diajak toilet training setelah otot-ototnya mulai dapat mengontrol kandung kemih pada usia di atas 18 bulan. juga ditandai dengan kesiapan emosi, fisik dan psikologis di usia sekitar 2-3 tahun. Tanda-tandanya antara lain, dapat duduk tegak, dapat membuka-memakai celana, bisa memahami intruksi sederhana dan sudah bisa mengatakan keinginannya.
Persiapan yang dibutuhkan:

  • Diapers (untuk tahapan pertama)
  • Trainingpant (supaya saat terjadi kebocoran tidak jatuh ke lantai)
  • Kursi untuk duduk anak (posisikan dekat pintu kamar mandi)
  • Lap pel
  • Minyak telon (biar gak masuk angin)
  • Timer

Tahapan pertama:

Anak masih menggunakan diapers ya bunda. 

  • Beri waktu satu jam setelah anak mandi, ajak anak ke kamar mandi (posisi pipis), tunggu sekitar 2-3 menit sampai anak benar-benar pipis. Jika anak tidak pipis, pakaikan kembali diapers dan tambahkan waktu 5-10 menit, ajak lagi anak ke kamar mandi sambil perkenalkan “ini namanya pipis, dede mau pipis/ dede sedang pipis”. 
  • Jika anak berhasil pipis di kamar mandi, berikan reward dan lihat reaksi anak.
  • Setelah tau berapa menit jarak anak pipis, lakukan pada jam berikutnya.

Tahapan kedua:

Pada tahapan ini, anak sudah mulai pakai trainingpant ya bun. Trainingpant ini bisa menampung air kencing 1x agak tidak jatuh ke lantai dan anak akan merasa risih karena merasakan basah.

  • Seperti tahapan pertama, ajak anak ke kamar mandi 1 – 1,5 jam sekali untuk pipis.
  • Jika anak banyak minum, kurangi beberapa menit jarak pipisnya karena akan lebih sering pipis.
  • 5 menit sebelum jadwal ke kamar mandi, posisikan anak duduk di kursi dekat kamar mandi. Setelah waktunya, barulah ajak anak ke kamar mandi untuk pipis. 
  • Berikan penjelasan tentang kegiatan “pipis”.
  • Lakukan pada jam berikutnya. Jika terjadi kebocoran, ajari anak untuk pelepas celananya sendiri dan pakaikan kembali trainingpant yang lainnya.

Tahapan ketiga:

Sama seperti tahapan yang kedua.

  • Posisikan anak duduk dikursi 5 menit sebelum jadwal pipis dan tunggu sampai anak masuk sendiri ke kamar mandi. Jika masih belum merespon sendiri pada saat waktunya pipis, ajaklah kembali ke kamar mandi (dibantu).
  • Berikan penjelasan kegiatan “pipis”
  • Lakukan pada jam berikutnya. Jika terjadi kebocoran, ajari anak untuk pelepas celananya sendiri dan pakaikan kembali trainingpant yang lainnya.

Selama tahapan 1-3, untuk malam hari masih menggunakan diapers ya bun, atau kalau tidak, boleh menggunakan alas agar pipis anak tidak kena sprai.

Biasakan pipis sebelum tidur.

Ketika bepergian, disarankan pakai diapers dulu. Ajaklah anak pipis saat akan berangkat dan sampai di tempat tujuan.

Nah, kalau untuk BAB caranya hampir sama bunda. Bedanya hanya pada jarak waktunya saja. Pada umumnya jadwal BAB akan selalu/ hampir sama pada setiap harinya kecuali ada gangguan pencernaan. Maka kita akan lebih mudah mengajarinya. Jika sudah mendekati waktunya anak BAB, ajaklah ke kamar mandi dan posisikan anak untuk BAB. Tunggu kurang lebih 5-7 menit sambil beri penjelasanengenai BAB. Ciptakan suasana yang menyenangkan agat anak tidak bosan. Setelah anak berhasil BAB di closet, berikan reward yang menyenangkan ya bun. Jika belum bisa, kembali keluar dan tambahkan beberapa menit baru ajak kembali ke kamar mandi.

Toilet training ini membutuhkan banyak kesabaran lho bunda. Bukan hanya anak saja yang mengalami penyesuaian. Bunda juga pastinya butuh penyesuaian mesti bolak balik kamar mandi padahal biasanya santai-santai saja karena anak pakai diapers ūüėÖ (betul apa betul bunda). Sabar ya bunda, namanya juga anak lagi belajar. Biasanya toilet training ini goal dalam 1 sampai 8 minggu, tergantung kemampuan anak mengerti konsepnya (untuk anak normal). Berbeda dengan anak berkebutuhan khusus yang kebanyakan membutuhkan waktu lumayan lama.

Kerjasama semua pihak yang ikut mengurusi anak juga penting bun. Komunikasikan program toilet training ini dengan pengasuh, nenek-kakek dan suami. Oia bunda, bila perlu berikan minyak telon agar anak tidak masuk angin karena kena air terus (masih penyesuaian). Siapkan sabar juga yang banyak ya bun ūüėĄ. 

Semoga bermanfaat dan selamat mencoba.

0

CARA MENJALIN CHEMISTRY DENGAN BUAH HATI ANDA

Halo assalamualaikum
Sudah lama rasanya saya tidak memposting artikel disini. Kebetulan 4 bulan yang lalu saya telah melahirkan anak pertama saya tepatnya pada tanggal 8 April 2016 yang diberi nama Elnino Putra Sunarya.

image

Ini Nino sama ayahnya waktu umur 1 bulan

Terlalu keasikan mengurusi sang bayi jadi belum sempat menulis lagi. Sekarang saya dapat merasakan kebahagiaan memiliki buah hati yang sangat lucu. Biasanya saya hanya bermain bersama murid-murid saya dan sekarang saya dapat merasakan kebahagiaan bermain dengan putra saya sendiri. Memang benar sangat terasa perubahan yang berbeda di hidup saya setelah adanya pangeran kecil ini. Setiap hari kita lalui bersama karena kebetulan baru satu minggu saya cuti kerja saya langsung lahiran dan saya memiliki banyak waktu untuk mengurusi pangeran kecil ini. Sibuk memang dan sayapun merasakan kelelahan karena mengurusi bayi sendiri namun semua itu saya nikmati dan saya syukuri karena dengan itu saya bisa membangun chemistry yang erat dengan pangeran kecil ini.

Haduh, malah jadi curhat gini ya ūüėÄ
Maaf maaf, baiklah dikesempatan kali ini saya akan membahas mengenai CARA MENJALIN CHEMISTRY DENGAN BUAH HATI ANDA. Sedikit nyambung kan dengan cerita saya di atas hehehe.

Menjalin kedekatan dengan anak merupakan hal yang mesti diupayakan oleh orangtua. Namun, tak banyak orangtua yang paham bagaimana cara membangun kedekatan dengan anak sesuai usia mereka.

Anda mungkin pernah mendengar istilah bonding. Bonding adalah suatu keterikatan antara orangtua dan anak. Dalam ilmu psikologi, bonding kerap diartikan dengan keterikatan pada beberapa hari hingga beberapa minggu setelah kelahiran anak. Para ahli psikolog lebih suka menyebut proses pembentukan kedekatan tersebut dengan istilah attachment.

Tiga tahun pertama
Seorang ahli psikologi, John Bowlbymengembangkan suatu penelitian yang mengungkapkan bahwa tiga tahun pertama hidup seorang anak adalah waktu paling baik untuk pengembangan kedekatan antara orangtua-anak. Studi Bowlby kemudian dikembangkan oleh koleganya, Mary Ainsworth yang kemudian mengklasifikasikan bentuk-bentukattachment tersebut. Dari studi Ainsworth, kita mengetahui bahwa sebagian besar anak sebetulnya mengalami perasaan aman terhadap orang tuanya (secure attachment). Sementara ada sebagian kecil yang mengembangkan perasaan tidak aman (insecure).

Secure vs insecure
Studi attachment kemudian membuktikan bahwa anak  yangsecure cenderung berkembang lebih sehat dibandingkan anak insecure.Shaffer (2005) mengumpulkan berbagai penelitian yang membandingkan antara anak keduanya.

Anak yang secure terbukti memiliki karakteristik sebagai berikut:

Mampu memecahkan masalah dengan lebih baik
Lebih kreatif
Menunjukkan lebih banyak emosi positif
Lebih bisa bergaul karena lebih sensitif kepada teman-temannya
Lebih banyak inisiatif dan lebih mampu menjadi pemimpin
Lebih semangat belajar sehingga cenderung lebih berprestasi
Dan masih banyak kelebihan positif lain.

Sementara anak insecure cenderung menunjukkan karakteristik:

Lebih banyak menunjukkan kemarahan dan agresivitas
Sulit diatur
Mengalami gangguan psikologis
Dan beberapa kekurangan lain.

Tidak berhenti di masa kanak-kanak, ketika dewasa, individu secure pun berbeda dari invidu yang insecure.  Menurut  Miller (2012), mereka yangsecure cenderung lebih menghargai dan lebih bersahabat dengan pasangannya.  Sementara mereka yang insecure cenderung terus mencurigai pasangannya, lebih posesif, pemarah dan penuntut terhadap pasangannya sehingga cenderung bermasalah dengan pasangannya. Individu insecure lebih banyak terlibat dalam pertengkaran dengan orang lain di sekitarnya, bahkan banyak diantara mereka yang melakukan tindak kriminal.

Manfaat bagi orangtua
Bagaimana dengan orangtua yang berusaha menjalin attachment dengan anaknya? Ternyata mereka cenderung mengalami perkembangan individu yang lebih positif pula seperti berkurangnya egoisme, lebih bertanggung jawab, bahkan secara umum lebih bahagia. Artinya menjalin attachment tidak hanya menguntungkan buat perkembangan anak, namun juga menguntungkan untuk perkembangan orang tuanya.

Dua kata kunci
Ainsworth menekankan 2 kata kunci untuk meningkatkan kualitas attachment; sensitif dan responsif. Sensitif artinya orangtua betul-betul memahami apa yang sungguh dibutuhkan (bukan sekadar diinginkan) oleh anak. Contoh, orangtua perlu segera paham apa arti tangisan anak, apakah ia lapar, mengantuk, lelah atau karena lainnya. Responsif artinya segera mungkin memenuhi kebutuhan anak. Contoh ketika anak terjatuh, orangtua langsung menghentikan kegiatannya

Attachment yang secure buat anak-anak

Bagaimana menciptakan bentuk attachment yang secure untuk anak-anak. Ide-ide di bawah ini bisa dicoba :

0-6 bulan Menyusui bayi bukan hanya memberikan ASI tetapi membentuk attachment dengan cara pelukan, tatapan yang hangat dan diajak ngobrol.

6-12 bulan Terkandang menggendong dan memeluk perlu dilakukan pada anak namun kita juga harus memberikan kesempatan anak untuk mengeksplorasi dunianya sendiri.

Batita Pastikan anak memiliki rutinitas harian misalnya makan, bermain dan tidur. Adanya keteraturan membuat anak merasa lebih aman karena ia bisa memprediksi apa saja yang harus ia lakukan.

Balita Ajak anak bermain apa yang digemari dan ajak pula ia mengobrol suatu topik dengan menggunakan bahasa yang mereka pahami. Pada beberapa anak di usia ini akan banyak melakukan kenakalan-kenakalan yang akan menguji kesabaran kita sebagai orang tua. Disini kita di tuntut untuk tegas kepada mereka. Bukan berarti harus marah dan menyalahkan semua kenakalan mereka. Namun tetap mengarahkan dan mengingatkan agar mereka tidak bersikap seperti itu lagi. Kita tidak usah terlalu khawatir dengan kenakalan tersebut karena itu semua termasuk fase yang akan dialami setiap anak.

Anak usia sekolah Ketika anak mulai disibukkan oleh rutinitas sekolah, berikan dukungan dengan menemani ia belajar. Ketika anak mendapat nilai buruk jangan langsung dimarahi, namun bantulah ia mengatasi permasalahannya. Dukungan dan perhatian kita sangat berarti bagi mereka. Jika anda sibuk, luangkanlah waktu sebentar walau hanya untuk menemaninya mengerjakan PR.

Bagi Ayah:

Setiap orang tua perlu menyadari seberapa dekat dirinya dengan sang buah hati, termasuk ayah. Sebagai orang tua, kita perlu berupaya untuk merespon kebutuhan emosional anak, sehingga anak pada akhirnya merasa dimengerti dan dihargai. Setiap anak memiliki kebutuhan akan afeksi dan perhatian yang berbeda, tergantung kepribadian dan tempramennya.
Bonding atau keterikatan tidak hanya terjadi pada Ibu dan bayi saja. Saat ini ayah juga bisa memiliki dan menciptakan keterikatan yang erat dengan si kecil. Beberapa dari para ayah mungkin akan bertanya mengenai apa yang dapat ayah lakukan untuk menciptakan bonding dengan si kecil?
Beberapa kegiatan berikut dapat ayah coba untuk menciptakan bonding dengan si kecil:

Mengusap perut Ibu dan mulai mengajak bicara si kecil 
Sejak si kecil masih dalam kandungan, ayah sudah dapat memulai melakukan bonding dengan si kecil dengan cara mengusap perut Ibu dan mengajak si kecil berbicara. Cara ini di yakini akan membuat si kecil merasa aman, nyaman, terlindungi, dan si kecil akan merasa disayangi. Memberikan komunikasi yang intensif dengan mengajak bicara si kecil sejak masih didalam kandungan juga diyakini akan menciptakan dan membangun bonding yang kuat antara ayah dan si kecil.

Menghadiri kelahiran si kecil 
Usahakan untuk ayah menghadiri kelahiran si kecil, selain kehadiran ayah akan memberikan semangat untuk Ibu, kehadiran ayah di saat si kecil dilahirkan akan membuat si kecil melihat untuk pertama kalinya siapa ayah dan ibunya. Apabila keadaan memungkinkan dan dokter mengizinkan, ayah dapat memotong tali pusat si kecil setelah dilahirkan. Hal ini dapat menciptakan ikatan batin antara ayah dan si kecil.

Ikut serta dalam membesarkan si kecil 
Ayah juga harus ikut serta dalam membesarkan si kecil, ayah harus memberanikan diri untuk menggendong si kecil, memandikan si kecil, menggantikan popok, memakaikan baju, ikut menyuapi si kecil, menemani Ibu saat si kecil diajak kedokter untuk imunisasi atau pemeriksaan rutin, membacakan dongeng sebelum si kecil tidur.

Mengajak si kecil bermain 
Bermain dapat menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan dan juga dapat menjadi cara untuk ayah menunjukan kecintaan dan menjalin kedekatan dengan si kecil.

Semakin banyak dan semakin sering ayah melakukan kegiatan bersama si kecil, maka akan semakin memperat ikatan antara ayah dengan si kecil.
Jangan biarkan anak kita merasa lebih nyaman berada dengan orang lain dibandingkan bersama orang tuanya sendiri. Sesibuk apapun, luangkanlah waktu untuk mereka. Kebutuhan mereka bukan sekedar materi namun perhatian dan waktu luang dari orang tua. Buatlah mereka merasa bangga dan bahagia menjadi anak anda.

0

PRIVATE home visit (Bandung)

Bintang hati bunda private home visit bandung memberikan layanan untuk:
‚óľ Anak Berkebutuhan Khusus (Autism, Cerebral palsy, PDD-Nos, kurang konsentrasi, Disleksia, Disgrafia, Diskalkulia, Speech delay, Hyperactif)
*Terapi perilaku (Metode ABA)
*Terapi wicara
*Terapi okupasi

Pembelajaran yang menyenangkan akan menumbuhkan minat baca dan tulis anak tanpa merasa tertekan.
Terapis/ guru adalah seorang yang berpengalaman dibidangnya dan lulusan Pendidikan Luar Biasa di Universitas swasta bandung.
Awal terapi akan dilakukan asesmen terlebih dahulu pada anak agar dapat terlihat sejauhmana kemampuan dan kabutuhannya dalam pembelajaran. Laporan hasil belajar di lakukan setiap selesai terapi. Rapotan/ evaluasi diadakan 3 bulan sekali.

‚ú® Free pendaftaran dan konsultasi ‚ú®
More info: 

Wulan Tresnawati S.Pd

WA 082115457261

IG @bintanghatibunda

0

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak

image

Shiddiq (5) anak ketiga kami, memang anak
yang berkarakter keras dan belum memiliki kecerdasan emosi dalam menghadapi masalah jika dibandingkan dengan kakak dan adiknya. Bentuk frustasinya sering sekali menguji konsistensi dan kesabaran kami sebagai orang tua. Suatu hari, Shiddiq sedang memiliki keinginan terhadap saya. Namun saat itu saya pun bersih keras berjanji baru akan membantunya jika ia sudah meminta maaf dan menyelesaikan masalah sebelumnya dengan Shafiyah. Rupanya tawar menawar itu membuat Shiddiq sangat marah. Ia mengancam akan memanjat jendela seperti pencuri jika saya tidak memenuhi keinginannya. Tentu saya mengerti ini adalah bentuknya untuk mencari perhatian. Saya pun mengabaikannya.

Merasa gagal ia semakin beraksi. Ia keluar membawa kursi, berteriak meminta adiknya membuka jendela kamar dari dalam. Kami pun terus mengabaikannya. Ia terus berteriak mengancam, lalu ia tingkatkan kehebohannya dalam mencari perhatian. Ia ambil perkakas di garasi sambil mengancam akan memecahkan jendela. Sementara kami pun terus mengabaikannya sambil saya berdoa agar Allah senantiasa melindunginya dari segala mara bahaya. Dia pun terus mencari perhatian “Ummi come here, i have surprise!” Saat Shafiyah (7) terpancing untuk melihat, ia pun tertawa sambil menunjukkan perkakas yang ia siapkan untuk memecahkan kaca. Betul saja bahwa ia hanya sedang mencari sensasi dan perhatian. Saya pun melarang semua anak merespon Shiddiq saat itu. Lalu saya berteriak dari balik kamar “Shiddiq, ummi sayang sama Shiddiq tapi ummi tidak suka cara Shiddiq minta perhatian ummi. Tidak akan ada orang di rumah ini yang berhasil meminta sesuatu dengan cara mengancam, ummi tau kamu sedang cari perhatian, kalo minta perhatian dengan cara ini, ummi akan abaikan, kalo Shiddiq mau diperhatikan ummi, lebih baik masuk ayo kita bikin Pizza bersama”. Merasa tidak berhasil menghabiskan waktu bermenit-menit diluar, ia pun menyerah masuk kedalam. Akhirnya ia pun meminta maaf atas perlakuan buruknya pada Shafiyah, kemudian saya memeluk dan menasihatinya.

Shiddiq….. Shiddiq…… memang ia anak yang lebih sering rewel saat meminta sesuatu, tapi saya dan ayahnya pun tetap bersikeras tidak akan memenuhinya kecuali ia menenangkan diri dan memperbaiki cara ia meminta. Bahkan ia pernah guling-guling di lorong mesjid karena menangis kecewa, sementara saya dengan muka “badak” terus meminta ia memperbaiki caranya dalam meminta. Tidak semua keinginannya kami kabulkan, sehingga ia sering berhenti setelah marah dalam waktu yang cukup lama karena menyerah, lalu kembali ikut aturan main dalam keluarga.

Ketika kesal menghadapi Shiddiq yang rewel, saya sering mengalihkan lisan saya dengan berdoa, walau dengan suara keras untuk menyalurkan kekesalan saya juga. Sampai suatu hari Ali pernah bilang “Ummi aku mau tantrum aja kayak Shiddiq biar didoain terus sama ummi kayak gini” Saya pun memperbaiki cara saya berdoa, menambahkan doa itu untuk anak-anak lainnya, serta mengucapkan dalam hati agar tidak menjadi seperti “hadiah” dalam berbuat kesalahan.

Saya yakin, saya masih percaya, bahwa Shiddiq melakukan itu bukan karena ia anak yang tidak baik. Ia hanya belum memiliki kesempurnaan pikiran dalam memutuskan sesuatu dengan cara yang bijaksana. Maka selain beristigfar atas segala kesalahan-kesalahan kami sebagai orang tua, juga beristigfar atas segala kesalahan-kesalahan kami sebagai seorang anak, kami terus berusaha menyampaikan nasihat dan ajaran agama dalam sesi homeschooling islamic study setiap harinya. Pernah bahkan saya bertanya pada suami, saat Shiddiq sedang berulah “Pak, insya Allah kita gak lupa berdoa kan saat kita ‘membuat’ Shiddiq?” Insya Allah kata bapak. Saya yakin dan saya percaya, nasihat-nasihat itu insya Allah kelak akan bermanfaat bagi masa depannya, meski saat ini ia masih belum terlalu bijaksana dalam mengambil sikap saat ia menghadapi masalahnya.

@Kiki barkiah

#Cuplikan kisah diatas mengingatkan dan mengajarkan kita bagaimana cara menangani anak dengan segala keinginan dan kekerasan hatinya. Orang tua tidak selalu harus mengiyakan apa yang anak mau. Namun orang tuapun harus tau bagaimana cara mengajarkan kepada anak bahwa tidak semua yang terjadi harus sesuai yang dia inginkan.
Kita harus mendidik mereka dengan cara mengasihinya, bukan dengan mengkasihaninya.

1

Jenis Terapi Untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Banyak terapi yang dapat diberikan untuk anak berkebutuhan khusus terutama untuk anak autis. Semua jenis terapi itu baik diberikan pada ABK sesuai yang dibutuhkan. Hal yang paling penting adalah sikap orang tua terhadap anak dirumah. Agar perkembangan anak dapat meningkat dengan baik, maka selain anak melakukan terapi atau sekolah, orang tua di rumahpun baiknya menjalankan materi yang telah diterima anak disekolah.
Dibawah ini adalah beberapa jenis terapi untuk anak autis dan anak berkebutuhan lainnya.

Applied Behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bisa diukur kemajuannya. Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.

Terapi Wicara
Gangguan bicara dan bahasa bisa diakibatkan adanya gangguan di pusat bahasa pada otak. Namun, bisa juga diakibatkan oleh gangguan di wilayah perifer atau tepi. Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang.
Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.

Terapi Okupasi
Terapi okupasi adalah usaha penyembuhan melalui kesibukan atau pekerjaan tertentu. Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot -otot halusnya dengan benar. Terapi okupasi juga dapat diberikan pada anak dengan berkebutuhan khusus lainnya untuk melatih motorik halusnya.

Terapi Bermain
Terapi bermain merupakan usaha penyembuhan untuk mencapai perkembangan fisik, intelektual, emosi dan sosial anak secara optimal. Pertumbuhan dan perkembangan intelektual dilatih ketika anak menemukan, memeriksa dan menerangkan atau memberi tanda atas rengsangan yang ditemukan saat bermain.

Terapi musik
Para ahli percaya bahwa musik dapat dijadikan wahana untuk kegiatan pendidikan, baik bagi anak normal maupun anak berkebutuhan khusus. Ruang lingkup terapi musik yaitu: a. menggerakan tubuh sesuai musik, bunyi atau suara, b. mendengarkan bunyi atau suara musik, c. menggunakan alat-alat instrumen atau alat musik, d. membunyikan alat bersama-sama, e. menyanyi dan f. bergerak atau bermain sesuai musik.

Terapi Biomedis
Dengan mengikuti terapi biomedis, orang tua dipadu selangkah demi selangkah membersihkan tubuh anak dari bahan-bahan yang mrngganggu metabolisme dan kerja sistem saraf. Dengan cara ini kemajuan anakpun dapat dimonitor dengan tepat dan penyebab autisme bisa diketahui dengan pasti. Ini memudahkan orang tua memperbaiki cara penanganan yanh salah, dan mengulangi cara penanganan yang bermanfaat.

Bersabarlah bunda untuk menunggu hasil dari usaha yang telah bunda lakukan demi anak bunda. Tak ada hasil yang sia sia. Terkadang kita berpikir bahwa anak tidak menunjukan perkembangan padahal terapi dan usaha lain sudah dijalankan. Tetapi, justru pikiran itu yang menunda keberhasilan anak. Jika bunda terus berpikir positif, rasakanlah setiap perkembangan dan perubahan anak. Karena selalu ada kejutan disetiap perkembangan yang mereka tunjukan. Jika tidak sekarang, mungkin suatu saat nanti.