0

Mengenal Lebih Dekat Dengan Terapi Wicara

Apa itu Terapi Wicara?

Terapi wicara adalah ilmu kedokteran yang menangani evaluasi, diagnosis, dan pengobatan gangguan penyebab ketidakmampuan bicara dan menelan. Terapi wicara memiliki lingkup yang luas. Terapis wicara menangani pasien dari berbagai usia dengan gangguan yang berbeda. Ada pula sub-spesialisasi yang khusus menangani anak. Terapi wicara bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Dengan diberikannya layanan terapi wicara bisa pada anak-anak, kemampuan bicara merrka akan lebih baik. Selain itu, terapi wicara juga bermanfaat untuk keterampilan mengunyah anak dan juga bisa menambah nafsu makan anak. Intervensi sedini mungkin pada anak yang memiliki hambatan bicara sangat berpengaruh terhadap hasil yang didapatkan nantinya.

Siapa saja yang perlu mendapatkan layanan terapi wicara?

Terapi wicara dibutuhkan oleh pasien dengan masalah bahasa, komunikasi, dan menelan karena gangguan kesehatan, harus menjalani terapi wicara. Gangguan komunikasi merujuk pada ketidakmampuan seseorang dalam menerapkan dan memahami pembicaraan dan berbahasa sebagai cara bersosialisasi. Gangguan ini mencakup keterlambatan bicara, perubahan suara, tidak mampu memahami pembicaraan atau berbicara dengan baik.

Contoh-contoh gangguan bicara adalah:

  • Apraksia verbal pada anak
  • Gagap
  • Gangguan artikulasi atau bicara tidak jelas
  • Disartria atau gangguan artikulasi karena kerusakan saraf pusat
  • Gangguan otot orofasial
  • Kesulitan belajar, dalam membaca, mengeja, atau menulis
  • Mutisme
  • Afasia atau gangguan berbahasa
  • Gangguan irama bicara
  • Lisp atau tidak mampu melafalkan huruf dengan baik

Gangguan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk:

  • Kelainan pertumbuhan, seperti celah bibir dan langit mulut
  • Gangguan pendengaran
  • Gangguan saraf
  • Cedera otak

Namun, dalam kasus tertentu, penyebab gangguan ini tidak diketahui sama sekali.

Terapi wicara sangat penting untuk gangguan yang menyebabkan disfagia atau kesulitan menelan, seperti:

  • Penyakit Parkinsonmultiple sclerosis
  • Distrofi otot
  • Lumpuh otak
  • Autisme
  • Gangguan pendengaran
  • Penyakit asam lambung
  • Esofagitis
  • Kanker
  • Stroke
  • Sindrom pasca-polio
  • Skleroderma
  • Cedera sumsum tulang

Dimana layanan terapi wicara dapat ditemukan?

Saat ini banyak tempat yang menyediakan layanan terapi wicara. Seperti di rumah sakit, klinik-klinik, pusat tumbuh kembang anak, ataupun layanan home visit seperti BHB (Bintang Hati Bunda). Seorang terapis wicara adalah seorang ahli di bidang wicara. Namun untuk kebutuhan ABK, masih bisa ditangani oleh terapis lainnya yang pada dasarnya mengetahui metode dan cara pembelajaran terapi wicara sendiri sesuai kebutuhan anak.
Kapan anak harus mendapatkan layanan ini?

Sebagai orang tua, kita sebaiknya mengetahui tahapan perkembangan anak setiap bulan atau tahunnya. Berikan stimulus disetiap aspek perkembangannya termasuk aspek komunikasi/ bicaranya agar perkembangan anak dapat berkembang sesuai usianya. Menurut dokter spesialis anak, batas toleran anak belum dapat bicara sedikitpun (babling, mengoceh) adalah 18 bulan. Jika sudah begitu, segeralah konsultasikan ke dokter. Memang perkembangan setiap anak berbeda-beda termasuk pada aspek bicaranya. Namun, tidak ada salahnya kita sebagai orang tua lebih cepat tanggap dengan perkembangan anak. Lebih cepat ditangani, maka akan lebih baik kan dari pada terlambat, kita tidak bisa mengulang waktu yang sudah dilewati. Waktu yang baik untuk penerapan terapi wicara (untuk ABK) adalah pada saat usia anak dibawah 3 tahun. Semakin cepat anak mendapatkan penanganan, semakin cepat perkembangan yang akan dirasakan. Ditambah lagi dengan intensitas terapi yang baik dan pengulangan materi dirumah. Pasti anak akan lebih cepat berkembang.

Untuk beberapa anak berkebutuhan khusus biasanya sebelum mendapatkan layanan terapi wicara, anak sebaiknya mendapatkan terapi perilaku terlebih dahulu/ berdampingan. Karena pada banyak kasus ABK apalagi anak autis, lebih baik mereka belajar kepatuhan dan kontak mata dulu sebelum melanjutkan ke program terapi wicara agar dapat belajar dengan efektif.

Untuk kasus orang dewasa, terapi diberikan setelah saran dari dokter (sesuai kebutuhan).

Apa saja yang dilakukan saat terapi wicara?



Komponen dan metode dalam terapi wicara, antara lain:

  • Fonasi
  • Resonansi
  • KelancaranIntonasi
  • Variasi pola titinada
  • Suara dan pernafasan

Komponen bahasan dan komunikasi yang terlibat adalah:

  • Fonologi
  • Manipulasi suara
  • MorfologiSintaksisTata bahasa
  • Semantik
  • Interpretasi atau penerjemahan tanda dan lambang komunikasi
  • Pragmatis

Program pengobatan/ pembelajaran terapi wicara berbeda-beda setiap pasiennya tergantung kebutuhan dan hambatan yang dialami.

Untuk anak usia sekolah, terapi dipadukan dengan layanan edukasi khusus, yang dikenal sebagai IEP (Individualized Education Program). Program ini untuk mendidik anak sesuai dengan tingkat dan fase yang dapat dipahami.

Beberapa teknik yang juga diterapkan adalah:

  • Bersiul, untuk meningkatkan penguasaan otot-otot mulut, tenggorokan, dan lidah
  • Mainan dan boneka tangan
  • Pemadu suara
  • Teknologi asistif
  • Permainan berbicara
  • Kartu bergambar

Referansi: https://www.google.co.id/amp/s/www.docdoc.com/id/info/specialty/terapis-wicara/amp

0

Mengatasi Phobia Sekolah pada Anak

Phobia sekolah adalah kecemasan atau ketidaknyamanan berada di sekolah.  Hal ini sering terjadi pada anak balita dan anak yang akan mulai masuk sekolah TK, SD ataupun SMP. kecemasan yang mereka rasakan membuat mereka enggan untuk pergi ke sekolah mereka akan melakukan trik atau alasan agar mereka tidak sekolah seperti menangis atau berpura-pura sakit agar orang tua bisa meng’iya’kan kemauannya untuk tidak sekolah. Keesokan harinya merekapun akan melakukan trik itu lagi karena dengan cara itu mereka berhasil untuk tidak pergi kesekolah lagi seperti hari-hari sebelumnya.

Ada beberapa penyebab phobia sekolah contohnya:

  • Pengalaman olok-olok teman
  • Pengalaman dimarahin guru
  • Tidak percaya diri
  • Tidak ingin pisah dengan orang tua/ibu
  • Tidak merasa nyaman dengan lingkungan
  • Malas belajar
  • Lingkungan baru
  • Anak sulit sosialisasi dan adaptasi

Adapun jenis phobia sekolah yaitu:

  1. Phobia jangka waktu pendekPhobia sementara hanya berlangsung pada awal sekolah selama 3 – 2 mingguan. Biasanya phobia ini terjadi pada anak usia balita (tidak mau berpisah dengan ibu) atau pada anak yang mulai masuk sekolah baru (adaptasi lingkungan dan orang baru).
  2. Phobia jangka waktu panjangPhobia jangka waktu lama biasanya berlangsung bertahun-tahun bahkan selama anak bersekolah disekolah itu. Hal ini terjadi karena pada awal sekolah (pada awal terjadi phobia) tidak ditangani dengan baik sehingga anak merasa terpola mengatur semua semaunya/atas kehendaknya. Sekolah dengan ditemani mama atau menolak sekolah jika ada kegiatan yang tidak disukainya. Jika ini sudah terjadi, anak merasa hal ini wajar dan anak tidak akan mendengarkan nasihat dari orang lain karena yang ia butuhkan hanya berada disamping ibunya setiap ia mau termasuk saat sekolah.

Keterikatan anak dengan ibu yang berlebihan dapat membuat pola perilaku anak yang ketergantungan dengan ibunya. Selain itu, anak yang tidak biasa belajar dirumahpun menjadi salah satu penyebab phobia sekolah. Anak tidak merasa nyaman disekolah karena disekolah ia harus belajar dan berpikir. Sedangkan dirumah, ia bisa main dan apapun yang ia mau bisa didapatkan. Persepsi anak yang mengalami phobia sekolah itu perlu kita luruskan. Anak harus mengerti pentingnya sekolah, serunya bermain dengan teman-teman di sekolah, belajar dengan nyaman dan menyenangkan dan menghapus persepsi beruk anak terhadap sekolahan beserta orang-orang di lingkungannya. Terkadang seorang ibu merasa tidak tega saat anaknya menangis dan menolak sekolah. Hal ini wajar saja, namun demi kebaikan dan kelancaran belajar anak, ibu harus belajar mencoba dan mempercayakan semua pada guru. Kepercayaan penuh terhadap guru akan membuat guru merasa dihargai dan berusaha lebih giat untuk memberikan layanan yang terbaik.
Ajaklah anak berdiskusi tentang hal apa saja yang membuat ia enggan pergi ke sekolah. Jika alasannya karena ketidak nyamanan dengan teman, guru atau lingkungannya, maka mintalah bantuan guru kelas untuk bersama-sama mengatasi masalah ini.
Phobia sekolah ini seperti hal sepele yang mungkin orang lain akan beranggapan bahwa  semua anak sama, akan mengalami phobia sementara. Namun beda halnya jika phobia yang berkelanjutan dan tidak ditangani dengan benar. Phobia sekolah akan berkelanjutan sampai anak besar dan pastinya akan membuat orang tua kebingungan.

Cara mengatasi phobia sekolah yaitu dengan menghadapi sekolah itu sendiri dan menekankan pentingnya sekolah. Apapun alasan yang dilakukan anak (manipulasi dengan menangis atau sakit), anak harus tetap berangkat kesekolah. Anak harus mengalami sendiri beberapa pengalaman disekolah dan merasakan serunya sekolah, amannya sekolah, senangnya bermain debgan teman teman dan hal positif lainnya jika sekolah. Dengan merasakan sendiri, pelan pelan persepsi buruk terhadap sekolah akan terhapuskan dan anak akan kembali percaya diri di sekolah. Jika anak dibiarkan tidak ingin sekolah atau sekolah dengan terus didampingi ibu, anak akan sulit mandiri dan phobia akan berkelanjutan.

Rangkulah anak oleh seluruh anggota keluarga, perbaiki kedekatan anak dengan anggota keluarga, agar anak tidak selalu dengan dengan ibunya.

Bila perlu, konsultasikan masalah phobia sekolah dengan psikolog agar orang tua tau penyebab dan cara yang tepat untuk mengatasinya. Jangan takut untuk berkonsultasi ke psikolog karena beranggapan  bahwa anak anda baik baik saja, psikolog adalah seorang ahli dalam bidang praktik psikologi, bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental. Siapa saja yang merasa mengalami ketidak wajaran tingkah laku atau kecemasan berlebihan terhadap sesuatu, bisa berkonsultasi ke psikolog.
Tetaplah berpikir positif dan tegas terhadap anak yang mengalami phobia. Phobia sekolah harus ditangani sedini mungkin maksimal sampai anak kelas 3 SD. Jika lebih dari itu, akan sulit merubah persepsi dari anak yang memiliki ketakutan akan sekolah.

0

PRIVATE home visit (Bandung)

Bintang hati bunda private home visit bandung memberikan layanan untuk:
◼ Anak Berkebutuhan Khusus (Autism, Cerebral palsy, PDD-Nos, kurang konsentrasi, Disleksia, Disgrafia, Diskalkulia, Speech delay, Hyperactif)
*Terapi perilaku (Metode ABA)
*Terapi wicara
*Terapi okupasi

Pembelajaran yang menyenangkan akan menumbuhkan minat baca dan tulis anak tanpa merasa tertekan.
Terapis/ guru adalah seorang yang berpengalaman dibidangnya dan lulusan Pendidikan Luar Biasa di Universitas swasta bandung.
Awal terapi akan dilakukan asesmen terlebih dahulu pada anak agar dapat terlihat sejauhmana kemampuan dan kabutuhannya dalam pembelajaran. Laporan hasil belajar di lakukan setiap selesai terapi. Rapotan/ evaluasi diadakan 3 bulan sekali.

✨ Free pendaftaran dan konsultasi ✨
More info: 

Wulan Tresnawati S.Pd

WA 082115457261

IG @bintanghatibunda

1

Jenis Terapi Untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Banyak terapi yang dapat diberikan untuk anak berkebutuhan khusus terutama untuk anak autis. Semua jenis terapi itu baik diberikan pada ABK sesuai yang dibutuhkan. Hal yang paling penting adalah sikap orang tua terhadap anak dirumah. Agar perkembangan anak dapat meningkat dengan baik, maka selain anak melakukan terapi atau sekolah, orang tua di rumahpun baiknya menjalankan materi yang telah diterima anak disekolah.
Dibawah ini adalah beberapa jenis terapi untuk anak autis dan anak berkebutuhan lainnya.

Applied Behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bisa diukur kemajuannya. Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.

Terapi Wicara
Gangguan bicara dan bahasa bisa diakibatkan adanya gangguan di pusat bahasa pada otak. Namun, bisa juga diakibatkan oleh gangguan di wilayah perifer atau tepi. Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang.
Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.

Terapi Okupasi
Terapi okupasi adalah usaha penyembuhan melalui kesibukan atau pekerjaan tertentu. Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot -otot halusnya dengan benar. Terapi okupasi juga dapat diberikan pada anak dengan berkebutuhan khusus lainnya untuk melatih motorik halusnya.

Terapi Bermain
Terapi bermain merupakan usaha penyembuhan untuk mencapai perkembangan fisik, intelektual, emosi dan sosial anak secara optimal. Pertumbuhan dan perkembangan intelektual dilatih ketika anak menemukan, memeriksa dan menerangkan atau memberi tanda atas rengsangan yang ditemukan saat bermain.

Terapi musik
Para ahli percaya bahwa musik dapat dijadikan wahana untuk kegiatan pendidikan, baik bagi anak normal maupun anak berkebutuhan khusus. Ruang lingkup terapi musik yaitu: a. menggerakan tubuh sesuai musik, bunyi atau suara, b. mendengarkan bunyi atau suara musik, c. menggunakan alat-alat instrumen atau alat musik, d. membunyikan alat bersama-sama, e. menyanyi dan f. bergerak atau bermain sesuai musik.

Terapi Biomedis
Dengan mengikuti terapi biomedis, orang tua dipadu selangkah demi selangkah membersihkan tubuh anak dari bahan-bahan yang mrngganggu metabolisme dan kerja sistem saraf. Dengan cara ini kemajuan anakpun dapat dimonitor dengan tepat dan penyebab autisme bisa diketahui dengan pasti. Ini memudahkan orang tua memperbaiki cara penanganan yanh salah, dan mengulangi cara penanganan yang bermanfaat.

Bersabarlah bunda untuk menunggu hasil dari usaha yang telah bunda lakukan demi anak bunda. Tak ada hasil yang sia sia. Terkadang kita berpikir bahwa anak tidak menunjukan perkembangan padahal terapi dan usaha lain sudah dijalankan. Tetapi, justru pikiran itu yang menunda keberhasilan anak. Jika bunda terus berpikir positif, rasakanlah setiap perkembangan dan perubahan anak. Karena selalu ada kejutan disetiap perkembangan yang mereka tunjukan. Jika tidak sekarang, mungkin suatu saat nanti.