0

Kebiasaan nakal ini adalah sebuah fase

image

Jika Anda sedang membesarkan anak balita, mungkin akrab dengan kata-kata, “Oh, itu mungkin hanya sebuah fase,” ketika Si Kecil berulah.Tapi benarkah itu?

Berikut adalah 8 kebiasaan balita yang sekedar fase masa pertumbuhan, seperti dilansir dari Parentdish.com.

Terbangun di malam hari

Saat baru lahir, sudah menjadi fase bayi untuk menangis di tengah malam. Jangan khawatir, ini akan menjadi kenangan yang meredup seiring bertambahnya usia Si Buah Hati. Tunggu saja hingga beberapa bulan berikutnya, kebiasaan ini akan memudar seiring perasaan aman yang didapat dari orangtuanya.

Beberapa anak yang belum genap berusia 2 tahun juga mengalami regresi tidur atau kerap terbangun di tengah malam. Jangan terlalu mengambil hati, cukup tenangkan dan beri pengertian untuk tidur kembali karena Anda akan selalu mengawasinya kendati tak selalu bersamanya di tempat tidur. Saat kecerdasan anak sudah mulai semakin berkembang, anak akan memahaminya. Memang, akan sulit pada awal mengenalkan konsep tidur di kamar sendiri, namun lama kelamaan ini akan hilang. Biarkan anak berangkat tidur dengan lampu menyala pada tahap-tahap awal. Namun setelah anak pulas, matikan lampu atau pasang lampu tidur.

Bencana popok

Pada usia-usia awal bayi, Anda mungkin beberapa kali mengalami popok yang belepotan kotoran atau becek karena terlalu penuh. Atau lebih parah lagi, bayi Anda buang kotoran saat sudah diganti popok atau saat dibuka popoknya. Alhasil, Anda kerepotan mencari popok pengganti untuk membereskannya.

Tenang saja, hal ini akan menghilang seiring transisi  yang dialami bayi mulai teradaptasi. Biasanya kebiasaan ini berkurang di saat bayi sudah mulai disapih, sudah berhenti minum ASI dan diganti susu formula, memahami rutinitas ganti popok, maupun nyaman dengan pencernaannya. Ini akan hilang seiring dengan proses tumbuh kembang bayi.

Tak mau mandi

Anak-anak terutama balita kerap berganti mood saat di kamar mandi. Semenit mereka asyik bermain bebek karet, tak diduga menit berikutnya mereka tak mau sama sekali di kamar mandi. Dan, keesokannya juga tak mau sama sekali masuk kamar mandi.  Tak ada bukti konklusif yang menjelaskan mengapa banyak balita tiba-tiba takut ke kamar mandi. Dan kebanyakan, hal ini sembuh dengan sendirinya.

Untuk membantu anak Anda melalui transisi ini, tetap lakukan rutinitas mandi mereka kendati mungkin mereka mandi di sebelah kamar mandi tetap menggunakan air dan handuk kecil. Sampai Anda dapat membujuk mereka kembali secara bertahap. Atau, Anda bisa selalu membujuk mereka dengan mainan mandi baru!

Ketakutan Tiba-tiba

Serupa dengan ketakutan ke kamar mandi, jangan heran jika sebelumnya jagoan kecil pemberani Anda yang  sebelumnya tak takut main perosotan dan ayunan, tiba-tiba menjadi penakut untuk pergi ke taman bermain. Bisa jadi ini karena Si Kecil baru saja sadar akan bahaya dan rasa sakit yang dialaminya atau dilihatnya ketika berada di taman bermain. Namun lama kelamaan, rasa takut ini akan berkurang dan menghilang seiring kesadaran anak jika ada pengalaman luar biasa menyenangkan yang lebih berharga dari ketakutan itu sendiri.

Teruslah membujuknya ke taman bermain dengan lembut. Jika anak gusar untuk bermain ayunan, ajaklah duduk di ayunan bersama-sama. Lama kelamaan anak akan tertarik mencobanya kembali. Pendekatan lembut Anda akan membantu anak membangun kepercayaan dirinya kembali.

Favoritkan Ayah atau Ibu

Saat anak balita Anda menunjukkan perhatian dan kasih sayang yang lebih besar kepada pasangan (atau cenderung memfavoritkan salah satu orangtuanya), memang terasa menyakitkan. Jangan gusar, kebiasaan memfavoritkan salah satu orangtua ini akan berganti-ganti seiring waktu. Jadi, nikmati saja waktu yang dimiliki dan akan tiba saatnya Anda menjadi favoritnya.

Berteriak-teriak

Balita suka berteriak atau menjerit. Baik itu merupakan eksperimen pita suara atau menemukan cara baru untuk mendapatkan perhatian orangtua, tentunya sangat menguji kesabaran Anda bukan?

Jika kecenderungan pada cara anak untuk mencoba kemampuan pita suara, ajaklah anak mencoba gaya lain seperti berbisik atau bersuara rendah. Namun jika anak kerap melakukannya untuk mendapat perhatian, tegaskan jika apa yang dilakukannya tak akan berhasil.

Memukul dan menggigit

Jangan kaget jika mendadak Anda dilapori pihak Pre-School jika balita Anda  telah memukul atau menggigit anak lain. Tenang, ini bukan  refleksi Anda sebagai orangtua atau anak  sebagai pribadi. Kemampuan komunikasi yang terbatas untuk mengekspresikan keinginan melalui kosa kata ditambah kontrol  diri yang masih minimal merupakan penyebab balita menyerang teman bermainnya.

Pastikan anak memahami bahwa ini bukan perilaku yang dapat diterima. Dan, cobalah tetap tenang sehingga Anda memberikan contoh atau teladan yang dapat diterimanya.

Memasukkan jari ke tenggorokan

Percaya atau tidak, anak-anak suka memasukkan jari mereka ke tenggorokan tanpa sebab. Bahkan hal ini kerap dilakukan hingga  mereka muntah. Kendati ini bukan sifat balita normal,  fase ini merupakan tahap dimana balita mulai memahami gagasan sebab dan akibat. Anak-anak memulai eksplorasi dari  tubuh mereka sendiri dengan melakukan sedikit trik yang menurut mereka menyenangkan.

Dan setelah mereka menyadari jika apa yang dilakukan  membuat Anda pusing tujuh keliling, mereka tak segan mengulang cara yang sama untuk perhatian orangtuanya. Cara terbaik menghindari anak mengulang memasukkan jari ke tenggorokan adalah jaga reaksi Anda tetap stabil.

Laili Damayanti #TabloidNova

Advertisements
0

Kapan anak saya bisa bicara ya bu?

image

Itulah pertanyaan yang sering terlontar dari orang tua murid kepada saya juga kepada terapis lainnya.

Sebenarnya semua tergantung kepada kita. Kita yang dapat mengevaluasi sendiri. Apakah kita sudah melakukan yang terbaik atau kita merasa lelah padahal baru melakukan sedikit usaha. Bisa dilihat juga dari materi atau layanan yang diberikan. Apakah sesuai atau tidak dengan anak anda.
Anak yang dapat berkomunikasi dengan baik adalah dambaan setiap orang tua. Melihat tumbuh kembang anak yang baik adalah kebahagiaan yang tak tertandingi dari apapun. Maka memang wajar jika orang tua sangat berharap anaknya yang belum dapat berbicara dapat segera berbicara.

Berdasarkan kondisi tersebut di atas banyak orangtua anak autis sangat khawatir dengan perkembangan kemampuan komunikasi anaknya. Karena itu, mereka berusaha untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dengan melatih anak untuk berbicara. Padahal melatih berbicara saja belum tentu tepat, apalagi pada anak autis yang memang nonverbal. Mereka dapat berkomunikasi melalui gerakan tubuh ataupun bahasa isyarat. Tidak sedikit juga anak autis atau anak berkebutuhan khusus lainnya merasa terpaksa dan merasa gagal saat mereka diharuskan belajar berkomunikasi verbal. Terkadang kegagalan ini menjadi salah satu penyebab tantrum pada anak autis dan abk lainnya.

Kemampuan dalam berbahasa dapat dilihat dari sejauhmana seseorang dapat memahami apa yang orang lain maksud dan menyampaikan apa yang diinginkan. Menurut Alloy (2005) dalam Yuwono (2012:63) “Aspek bahasa dapat dibagi dua yaitu Receptive Language (bahasa reseptif) dan Expresive Language (bahasa ekspresif)”. Bahasa reseftif adalah kemampuan pikiran manusia untuk memahami apa yang diucapkan orang lain. Sedangkan bahasa ekspresif adalah kemampuan untuk mengungkapkan atau mengkomunikasikan pikiran dan keinginan.

Pada tahapan bahasa reseptif, anak mampu menjalankan perintah sederhana, mampu menirukan beberapa gerakan dan mengenal banyak nama nama benda, ekspresi, kata kerja, anggota keluarga dll. Jangan lelah untuk terus memperkenalkan banyak hal kepada anak. Walaupun anak belum dapat menirukan atau menyebutkan nama benda yang dimaksud, namun pada tahapan ini anak menyerap banyak stimulus yang diberikan. Perkenalkan kepada anak benda benda disekitar yang dekat daan yang disukainya. Itu akan lebih mempermudah anak mengingat.
Jika anak sudah pada tahapan ini, orang tua tidak perlu khawatir. Berarti tidak lama lagi anak akan mampu berbicara walau mungkin tidak langsung mengeluarkan banyak kata atau kalimat. Setidaknya anak memahami apa yang diperintahkan atau apa yang dimaksud oleh orang disekitarnya.

Pada tahapan selanjutnya yaitu bahasa ekspresif. Pada tahapan ini anak sudah mulai mengeluarkan beberapa kata walau dengan pelafalan yang belum tepat. Mungkin pada beberapa kata yang mudah dan sering diucapkan anak dapat menyebutkannya dengan baik. Teruslah melatih dan memberi rangsangan agar anak dapat menirukan beberapa suku kata, kata bahkan kalimat. Jangan lupa memberikah reward setiap anak melakukan kegitan yang benar untuk terus memotivasinya.
Pada tahapan ini juga anak mulai dapat mengungkapkan apa yang diinginkannya melalui beberapa kata yang mewakili keinginannya. Anak juga mulai memanggil anggota keluarga seperti mama, papa, dan lain lain.

Terapi wicara adalah terapi yang baik diberikan kepada anak dengan kesulitan bicara. Jangan lupa juga selalu melakukan komunikasi dengan terapisnya dan mengulang dirumah materi yang telah diajarkan agar perkembangan anak lebih cepat.
Namun jika kendala anak bukan hanya pada bicaranya saja, misalnya anak belum dapat bersosialisasi dengan lingkungan, belum mengerti perintah sederhana, belum bisa berkonsentrasi dengan baik dan gangguan perkembangan lainnya yang tidak sesuai dengan usianya maka sebaiknya berikan pula layanan terapi perilaku kepada anak. Terapi perilaku bukan hanya untuk anak autis saja. Anak dengan gangguan perkembangan lainpun alangkah baiknya diberikan layanan ini. Namun sayangnya kebanyakan orang tua hanya mengejar kamampuan bicaranya anak saja tanpa melihat bahwa anak tersebut membutuhkan layanan lain untuk perkembanganya.

Perlu diketahui juga bahwa keberhasilan semua pembelajaran ataupun terapi bergantung pada beberapa hal dibawah ini:

1. Intensitas terapi
2. Berat ringannya gangguan yang dialami
3. Pengulangan materi dirumah
4. Usia awal terapi

Maka deteksi dini pada anak berkebutuhan khusus sangatlah penting agar anak dapat segera mendapatkan layanan yang tepat.

Tetap berusaha dan yakinlah tak ada usaha yang tak membuahkan hasil.
Tetap berdoa, lakukan yang terbaik dan jangan menyerah. Semangat kita adalah dorongan anak untuk terus berkembang dengan baik.
Semoga kita semua selalu diberi kesabaran dan semangat yang luar biasa untuk selalu mendukung dan membimbing mereka. Makhluk Tuhan yang paling special 😘😘

0

Mengatasi Anak Yang Sulit Diatur

Sewaktu bayi, sikecil adalah terlihat begitu menggemaskan, menginjak usia batita dikisaran usia 2-3 tahun mereka tumbuh menjadi pribadi yang begitu mengagumkan, memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar yang mana perilakunya ini tak jarang membuat ayah dan bundanya tertawa gemas. Seiring bertambahnya usia, sikecil menjadi pribadi unik yang memiliki harapan dan keinginan tersendiri dan bahkan keinginannya ini bisa tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh ayah dan bunda.

Pada beberapa kasus, ayah dan bunda menemukan anaknya yang periang dan penurut tiba-tiba berubah menjadi pribadi yang mudah meledak, sentimentil, pembangkang, hiperaktif, agresif cengeng dan beberapa sifat yang kurang disenangi lainnya. Disinilah peran dan kesabaran ayah dan bunda sebagai orang tua tengah diuji.

Namun tak perlu cemas, kita perlu memahami bahwa sifat-sifat diatas adalah hal yang normal terjadi pada anak-anak. Sebagaimana orang dewasa yang tidak selalu sempurna, sikecil juga terkadang bisa berperilaku tidak menyenangkan dan dianggap menjengkelkan. Namun hal yang terpenting adalah mengajarkan batas-batas kewajaran pada sikecil adalah tugas wajib bagi seorang orang tua.

Penyebab Anak Susah Diatur
Apabila ayah bunda menemukan sikecil yang tiba-tiba menjadi pemarah, memiliki karakter negatif dan susah diatur, sebelum memarahinya dengan membabi buta, ada baiknya ayah dan bunda introspeksi terlebih dahulu, adakah karakter yang membuat sikecil merasa kurang diperhatikan, frustasi ataupun tertekan. Karena pada dasarnya, anak yang kurang diperhatikan akan melakukan hal apa saja agar ia mendapatkan perhatian orang tuanya dan orang-orang disekelilingnya. Jadi jangan heran ketika berada dikeramaian, kemudian tiba-tiba sikecil menjadi susah diatur dan cenderung pembangkang. Selain itu, alasan lainnya adalah karena anak tersebut mengalami permasalahan dalam beradaptasi dengan lingkungannya. Atau bisa jadi ia adalah tipikal orang yang cenderung anti sosial yang menarik dirinya dari lingkungan.

Saat menghadapi anak yang sulit diatur, memarahinya bukanlah solusi cerdas untuk menyelesaikan masalah. Sebaliknya, membiarkan anak terus berlaku seperti demikian, karena ayah dan bunda sudah lelah dengan perilakunya, juga bukanlah tindakan yang bijaksana. Sebagai orang tua, mendidik anak sudahlah menjadi kewajiban. Agar ayah dan bunda bisa mengatasi anak yang susah diatur.

Berikut tips pintar untuk mengatasinya :
1. Lakukan Pendekatan

Ketika anak rewel dan susah diatur, menanggapinya dengan keras dan panas tidaklah menyelesaikan masalah, sebaliknya anak malah akan semakin rewel dan sulit diatur. Ketika hal ini terjadi didean umum, maka ayah dan bunda akan sedikit kerepotan. Untuk itu, lakukan pendekatan secara halus dan mulai berikan ia nasihat yang bijak, buat ia mengerti apa yang diinginkannya bukanlah hal yang baik. jagalah kekonsistenan ayah dan bunda, seperti misalkan ketika ia menginginkan es krim, setelah ayah dan bunda melarangnya dengan mengatakan tidak, maka pertahankan hingga sikecil menurut. Dengan begitu nantinya anak akan mulai terbiasa dan menurut dengan perkataan ayah bunda.

2. Menunjukan Tekad yang Kuat

Selain konsitensi yang perlu dijaga, tekad yang kuat juga perlu ditunjukan. Saat dihadapkan pada pertengkaran yang sulit dnegan sikecil, orang tua harus senantiasa menunjukan tekad yang kuat. Hal ini penting, karena ketika kita mneyerah, meski tidak mengatakannya, anak-anak akan dapat mengetahui apakah mereka bisa menang atau tidak. Dengan tekad yang kuat anda harus memiliki kekuatan secara internal untuk menjauhkan sikecil dari hal-hal yang buruk untuknya. Anak-anak harus dapat melihat tekad dan kekuatan dari dalam diri orangtua untuk meluruskan ketika mereka salah serta mengetahui bahwa anda melakukannya atas dasar rasa sayang.

3. Buat Peraturan Khusus

Tips pintar lainnya yang bisa ayah dan bunda lakukan adalah dengan membuat peraturan khusus yang telah dibicarakan terlebih dahulu dengan sikecil. Peraturan ini tentunya memiliki konsekwensi agar anak berusaha menghindari perbuatan nakal tersebut. Semakin ayah dan bunda sabar maka anak-anak akan semakin mudah dikendalikan. Dan jangan lupa untuk memberlakukan peraturan yang telah dibuat agar sikecil tetap mengingat batasan-batasannya. Selain itu, selalu berikan ia penghargaan ketika ia melakukan hal-hal baik yakni dengan memberikannya  pujian.

4. Tegas dan Konsisten

Tegas dan tidak bisa di tawar. Biasanya anak yang tidak bisa di atur selalu menawar apa yang sedang diperintahkan atau diajarkan kepadanya. Terkadang mereka juga pintar mengaligkan perhatian kita dengan tingkah laku mereka agar mereka tidak melaksanakan apa yang diperintahkan. Nah disinilah kita harus bersikap tegas dan konsisten supaya anak tidak menawar dan tidak mengalihkan perkataan kita. Kekompakan ayah dan bunda dalam mendidik buah hati anda juga sangat berperan penting. Bersikaplah sama memperlakukan buah hati anda. Jangan sampai sikap ayah dan bunda berbeda karena anak akan mencari perlindungan pada salah satu dari ayah dan ibu disaat anak bersalah atau kena hukuman.

Mereka adalah titipan Tuhan. Bersabarlah dan terus berdoa. Mereka pasti akan membuat kita bangga kelak mereka besar.

0

Resep Mendidik Anak

1— Jika melihat anakmu menangis, jangan buang waktu untuk mendiamkannya. Coba tunjuk burung atau awan di atas langit agar ia melihatnya, ia akan terdiam. Karena psikologis manusia saat menangis, adalah menunduk.
2— Jika ingin anak-anakmu berhenti bermain, jangan berkata: “Ayo, sudah mainnya, stop sekarang!”. Tapi katakan kepada mereka: “Mainnya 5 menit lagi yaaa”. Kemudian ingatkan kembali: “Dua menit lagi yaaa”. Kemudian barulah katakan: “Ayo, waktu main sudah habis”. Mereka akan berhenti bermain.
3— Jika engkau berada di hadapan sekumpulan anak-anak dalam sebuah tempat, yang mereka berisik dan gaduh, dan engkau ingin memperingatkan mereka, maka katakanlah:
“Ayoo.. Siapa yang mau mendengar cerita saya, angkat tangannya..”.
Salah seorang akan mengangkat tangan, kemudian disusul dengan anak-anak yang lain, dan semuanya akan diam.
4— Katakan kepada anak-anak menjelang tidur:
“Ayo tidur sayang.. besok pagi kan kita sholat subuh”, maka perhatian mereka akan selalu ke akhirat. Jangan berkata:”Ayo tidur, besok kan sekolah”, akhirnya mereka tidak sholat subuh karena perhatiannya adalah dunia.
5— Nikmati masa kecil anak-anakmu, karena waktu akan berlalu sangat cepat. Kepolosan dan kekanak-kanakan mereka tidak akan lama, ia akan menjadi kenangan. Bermainlah bersama mereka, tertawalah bersama mereka, becandalah bersama mereka. Jadilah anak kecil saat bersama mereka, ajarkan mereka dengan cara yang menyenangkan sambil bermain.
6— Tinggalkan HP sesaat kalau bisa, dan matikan juga TV.
Jika ada teman yang menelpon, katakan: “Maaf saaay, saat ini aku sedang sibuk mendampingi anak-anak”.
Semua ini tidak menyebabkan jatuhnya wibawamu, atau hilangnya kepribadianmu. Orang yang bijaksana tahu bagaimana cara menyeimbangkan segala sesuatu dan menguasai pendidikan anak.
Selain itu, jangan lupa berdoa dan bermohon kepada Allah, agar anak-anak kita menjadi perhiasan yang menyenangkan, baik di dunia maupun di akhirat.

0

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak

image

Shiddiq (5) anak ketiga kami, memang anak
yang berkarakter keras dan belum memiliki kecerdasan emosi dalam menghadapi masalah jika dibandingkan dengan kakak dan adiknya. Bentuk frustasinya sering sekali menguji konsistensi dan kesabaran kami sebagai orang tua. Suatu hari, Shiddiq sedang memiliki keinginan terhadap saya. Namun saat itu saya pun bersih keras berjanji baru akan membantunya jika ia sudah meminta maaf dan menyelesaikan masalah sebelumnya dengan Shafiyah. Rupanya tawar menawar itu membuat Shiddiq sangat marah. Ia mengancam akan memanjat jendela seperti pencuri jika saya tidak memenuhi keinginannya. Tentu saya mengerti ini adalah bentuknya untuk mencari perhatian. Saya pun mengabaikannya.

Merasa gagal ia semakin beraksi. Ia keluar membawa kursi, berteriak meminta adiknya membuka jendela kamar dari dalam. Kami pun terus mengabaikannya. Ia terus berteriak mengancam, lalu ia tingkatkan kehebohannya dalam mencari perhatian. Ia ambil perkakas di garasi sambil mengancam akan memecahkan jendela. Sementara kami pun terus mengabaikannya sambil saya berdoa agar Allah senantiasa melindunginya dari segala mara bahaya. Dia pun terus mencari perhatian “Ummi come here, i have surprise!” Saat Shafiyah (7) terpancing untuk melihat, ia pun tertawa sambil menunjukkan perkakas yang ia siapkan untuk memecahkan kaca. Betul saja bahwa ia hanya sedang mencari sensasi dan perhatian. Saya pun melarang semua anak merespon Shiddiq saat itu. Lalu saya berteriak dari balik kamar “Shiddiq, ummi sayang sama Shiddiq tapi ummi tidak suka cara Shiddiq minta perhatian ummi. Tidak akan ada orang di rumah ini yang berhasil meminta sesuatu dengan cara mengancam, ummi tau kamu sedang cari perhatian, kalo minta perhatian dengan cara ini, ummi akan abaikan, kalo Shiddiq mau diperhatikan ummi, lebih baik masuk ayo kita bikin Pizza bersama”. Merasa tidak berhasil menghabiskan waktu bermenit-menit diluar, ia pun menyerah masuk kedalam. Akhirnya ia pun meminta maaf atas perlakuan buruknya pada Shafiyah, kemudian saya memeluk dan menasihatinya.

Shiddiq….. Shiddiq…… memang ia anak yang lebih sering rewel saat meminta sesuatu, tapi saya dan ayahnya pun tetap bersikeras tidak akan memenuhinya kecuali ia menenangkan diri dan memperbaiki cara ia meminta. Bahkan ia pernah guling-guling di lorong mesjid karena menangis kecewa, sementara saya dengan muka “badak” terus meminta ia memperbaiki caranya dalam meminta. Tidak semua keinginannya kami kabulkan, sehingga ia sering berhenti setelah marah dalam waktu yang cukup lama karena menyerah, lalu kembali ikut aturan main dalam keluarga.

Ketika kesal menghadapi Shiddiq yang rewel, saya sering mengalihkan lisan saya dengan berdoa, walau dengan suara keras untuk menyalurkan kekesalan saya juga. Sampai suatu hari Ali pernah bilang “Ummi aku mau tantrum aja kayak Shiddiq biar didoain terus sama ummi kayak gini” Saya pun memperbaiki cara saya berdoa, menambahkan doa itu untuk anak-anak lainnya, serta mengucapkan dalam hati agar tidak menjadi seperti “hadiah” dalam berbuat kesalahan.

Saya yakin, saya masih percaya, bahwa Shiddiq melakukan itu bukan karena ia anak yang tidak baik. Ia hanya belum memiliki kesempurnaan pikiran dalam memutuskan sesuatu dengan cara yang bijaksana. Maka selain beristigfar atas segala kesalahan-kesalahan kami sebagai orang tua, juga beristigfar atas segala kesalahan-kesalahan kami sebagai seorang anak, kami terus berusaha menyampaikan nasihat dan ajaran agama dalam sesi homeschooling islamic study setiap harinya. Pernah bahkan saya bertanya pada suami, saat Shiddiq sedang berulah “Pak, insya Allah kita gak lupa berdoa kan saat kita ‘membuat’ Shiddiq?” Insya Allah kata bapak. Saya yakin dan saya percaya, nasihat-nasihat itu insya Allah kelak akan bermanfaat bagi masa depannya, meski saat ini ia masih belum terlalu bijaksana dalam mengambil sikap saat ia menghadapi masalahnya.

@Kiki barkiah

#Cuplikan kisah diatas mengingatkan dan mengajarkan kita bagaimana cara menangani anak dengan segala keinginan dan kekerasan hatinya. Orang tua tidak selalu harus mengiyakan apa yang anak mau. Namun orang tuapun harus tau bagaimana cara mengajarkan kepada anak bahwa tidak semua yang terjadi harus sesuai yang dia inginkan.
Kita harus mendidik mereka dengan cara mengasihinya, bukan dengan mengkasihaninya.